Beli 4 Hektar Lahan di Desa Pengadah, Totok: Surat Awal Berpasir Bukan Berawa

0
752
PERBEDAAN peta lokasi surat tanah pertama, antara baru dan lama

NATUNA, KABARTERKINI.co.id – Lianto tampak kesal. Karena lahan atau tanah 4 hektar dibelinya di Desa Pengadah, Kecamatan Bunguran Timur Laut, semula berpasir putih, kini beralih ke rawa-rawa atau berawa. Padahal sesuai dua surat tanah lama terbit pada 1980 yang dibelinya dari Mukhtar Harun pada 2020, diatasnya ada pohon jambu mete sebanyak 400 batang per-surat.

“Satu surat dengan luas 2 hektar. Yang saya beli sama Mukhtar Harun, menjabat sebagai Kepala Desa Pengadah. Lokasi kedua tanah di Semitan, dulu masuk dalam Kepenghuluan Pengadah, sebelum menjadi desa,” kata Totok -sapaan akrab Ketua Asosiasi Kontraktor Nasional (Askonas) itu pada KABARTERKINI.co.id via telepon WhatsApp, Selasa 20 Desember 2022.

Celakanya, sambung Totok, Kades Pengadah Mukhtar Harun mengeluarkan dua surat baru atau Surat Keterangan Ganti Kerugian terhadap 4 hektar tanahnya berpasir putih, beralih posisinya ke berawa. Lalu, sempadan tanah, berbeda nama, antara surat baru dengan surat lama.

“Kalau surat baru pertama seluas dua hektar, sebelah utara, selatan dan timur berbatasan dengan tanah Kades. Sebelah barat berbatasan dengan tanah milik kedua saya. Sedangkan surat lama, sebelah utara dengan tanah Jamrud, sebelah selatan dengan rawa, sebelah barat dengan Kades dan sebelah timur dengan Aisyah Harun,” kata Totok.

Sementara, sambungnya, surat tanah kedua seluas dua hektar, sebelah utara dan selatan berbatasan dengan Kades. Sebelah barat dengan Ki Naleng. Sedangkan surat lama, sebelah utara dengan tanah Jamrud, sebelah selatan dengan rawa, sebelah barat dengan kebun karet dan sebelah timur dengan Kades.

PERBEDAAN peta lokasi surat tanah kedua, antara baru dan lama

“Kenapa saya bilang 4 hektar tanah milik saya berpasir putih, sebab jambu mete tumbuh di pasir bukan di rawa. Lagi pula saat beli tanah 4 hektar itu, saya turun di lokasi, ditemani orang dekat Kades,” kata Totok.

Kades Pengadah Mukhtar Harun saat dikonfirmasi ke kantornya berjarak sekitar 26 kilometer dari Kota Ranai, Ibukota Kabupaten Natuna sedang tidak berada di tempat. Salah seorang staf wanita desa mengatakan, Kades Pengadah baru pulang ke rumah.

Salah seorang staf desa lainnya, dengan sedikit arogan mengatakan, jika urusan tanah antara Kades dengan Totok, biar di urus mereka berdua. Lagi pula, saat pembelian tanah itu, Totok sangat sulit membayar lunas.

“Beberapa kali Pak Kades menagih harus mencari Totok agar segera melunasi tanah dibelinya. Jadi urusan tanah itu, biar antara Pak Kades dengan Totok. Sehingga dapat dicari jalan keluarnya,” kata sang staf sedikit angkuh.

Namun, melalui telepon WhatsApp, Totok membantah menyulitkan pembayaran. Sebab perjanjian dengan Kades Pengadah Mukhtar Harun, pembayaran secara bertahap. Tidak salah hanya enam bulan, 4 hektar tanah di Desa Pengadah itu dibayar lunas.

“Saya telah membayar 4 hektar tanah di Desa Pengadah sekitar Rp100 juta lebih. Semula saya tidak mau beli, tapi orang dekat Kades minta tolong, atas permintaan Kades. Setelah saya bantu membelinya, semula tanah berpasir, kenapa kini berawa,” kata Totok setengah mengancam, permasalahan 4 hektar tanah di Desa Pengadah, akan ia teruskan sampai ke meja pengadilan, jika tidak ada penyelesaian secara kekeluargaan. (*andi surya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here