Indonesia Punya Peran Besar dalam Pertumbuhan Ekonomi Islam Dunia

0
656
KETUA Indonesia Halal Lifestyle Center, Sapta Nirwandar

JAKARTA, KABARTERKINI.co.id – Pademi Covid-19 selama 2020 telah menekan pertumbuhan ekonomi berbagai negara, termasuk pada sektor industri halal. Pandemi ini diperkirakan menyebabkan penurunan pengeluaran (belanja) warga Muslim global sekitar 8 persen.

Meski begitu, Indonesia dinilai memiliki potensi pertumbuhan ekonomi syariah berkelanjutan dengan eksistem kuat, sehingga memiliki peran besar dalam pertumbuhan ekonomi Islam dunia.

“Laporan saya menyajikan kebangkitan Indonesia terus berlanjut. Yang memiliki ekosistem kuat, memungkinkan partisipasi besar dalam peluang pasar global multi-triliun. Salah satu paling menarik pasar bagi investor internasional saat ini,” ungkap CEO Dinard Standard dalam webinar hybrid launching The State of Global Islamic Economy Report (SGIER) digelar dari Rafles Hotel, Jakarta, dilansir dari SMSI, Selasa 17 November 2020.

Wakil Presiden Republik Indonesia KH. Ma’ruf Amin yang me-launching SGIER secara virtual, menyebutkan, The State of Global Islamic Economy Report sudah masuk edisi ke 8. SGIER ini merupakan acuan penting karena fokus memberikan analisis terkini perkembangan Islam global.

“Report ini mengetahui eksistensi Negara Islam. Peran ekonomi Islam di Indonesia menunjukkan pertumbuhan pesat karena produk Islam, produk makanan halal, pariwisata, kosmetik, dan media rekreasi yang juga meningkat,” kata Ma’ruf saat pembukaan, sambil menambahkan, semua sektor, menjadi bahan penilaian islamic indicator. Indonesia masuk 10 besar dari indikator-indikator tersebut.

Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Sapta Nirwandar menyampaikan laporan SGIER 2020/2021, ada penurunan belanja warga Muslim di semua sektor industri halal akibat dampak pandemi Covid-19. Namun, seluruh sektor industri akan kembali bangkit ke tingkat pengeluaran pra-prandemi, di akhir 2021. Pengeluaran warga muslim diperkirakan akan mencapai 2,3 triliun dolar AS pada 2024 pada Tingkat Pertumbuhan Kumulatif Tahunan (CAGR) 3,1 persen.

Setiap tahun Dinar Standrard mengeluarkan SGIER merupakan laporan perkembangan ekonomi Islam global. Peluncuran tahun ini dilaksanakan di beberapa kota di berbagai negara, termasuk di Indonesia yang diselenggarakan oleh IHLC di Jakarta secara hybrid, online dan pertemuan terbatas dengan mengikuti protokol kesehatan Covid-19 pada Selasa 17 November 2020.

Selain Indonesia, SGIER diluncurkan di kota pusatnya Dinar Standard, Dubai (16 November 2020), Kuala Lumpur (18 November 2020), Marocco (19 November 2020), London (20 November 2020), dan madrid (23 November 2020). “IHLC menjadi partner untuk peluncuran dan menerjemahkan ringkasan eksekutif (executive summary) ke dalam bahasa Indonesia,” ungkap Sapta Nirwandar.

Dalam perkembangan industri halal, Indonesia mengalami peningkatan signifikan dibandingkan negara lain. Bahkan masa pandemi Covid-19 menjadi momentum kebangkitan ekonomi halal. Ma’ruf menyatakan, “Indonesia menjadi produsen halal terbesar di dunia pada 2024”.

“Indonesia memiliki kemajuan pesat di putaran ekonomi Islam global di berbagai sektor, seperti keuangan, makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, fesyen, pariwisata, dan media rekreasi,” timpal Rafiuddin Shikoh.

Sapta Nirwandar menjelaskan, di tengah pandemi tentu ada sektor mendapatkan tantangan lebih berat, seperti sektor pariwisata. Tapi dampaknya relatif ringan, seperti sektor makanan dan minuman, bahkan cenderung stabil. Sementara sektor teknologi dan farmasi mengalami pertumbuhan pesat.

“Indonesia mempunyai peluang besar mengakselerasi produk dan jasa halal. Tidak saja kebutuhan dalam negeri, tetapi mempunyai peluang go-ekspor,” kata Sapta, yang juga mantan Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia ini.

SGIER 2020/2021 memaparkan, pada 2019 tingkat pertumbuhan belanja Muslim mencapai 3,2 persen (year on year) dengan nilai sekitar 2,02 miliar dolar AS. Sementara aset keuangan syariah dunia mengalami pertumbuhan tinggi, asetnya kini mencapai 2,88 triliun dolar AS.

Di tengah pandemi Covid-19 akan mengalami penurunan belanja Muslim global sebesar 8 persen. Namun, pengeluaran ekonomi halal akan kembali tumbuh di akhir 2021, kecuali sektor pariwisata.

Pandemi Covid-19 telah mencatat banyak perkembangan penting dalam ekonomi Islami, antara lain terjadinya percepatan transformasi digital, disrupsi rantai pasok global, dan naiknya fokus pemerintah pada investasi berkaitan dengan keamanan pangan.

“Ekonomi Islami global terus bertumpu pada delapan pendorong kunci, termasuk jumlah penduduk Muslim besar dan bertumbuh, naiknya ketaatan pada nilai-nilai etis Islami yang mempengaruhi konsumsi, dan sejumlah strategi nasional yang ditujukan pada pengembangan produk dan layanan jasa halal,” jelas Sapta.

Beberapa strategi ekonomi Islami nasional Indonesia yang paling menonjol aalah Undang Undang Jaminan Produk Halal (UU JPH). Di samping itu, industri halal terus mengembangkan dirinya melalui pembangunan ekosistem komprehensif menuju Indonesia menjadi produsen produk halal dunia.

“Ini sejalan dengan tekad dan kebijakan pemerintah Indonesia menetapkan pada 2024 akan menjadi pusat produsen produk halal dunia,” pungkas Sapta. (*andy surya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here