Media dan Kemaslahatan Sosial

0
383

Oleh Amir Machmud NS

SEBEBAS apa pun atmosfer kemerdekaan pers, tapi demi kepentingan kemaslahatan dan kemanusiaan tetap merupakan mahkota harus dijaga dan ditegakkan dalam berjurnalistik. “Pesan moral” ini, mengemuka sebagai simpulan atas respons terhadap wacana model pemberitaan tentang virus Corona. Kinerja kewartawanan dan kemediaan diingatkan, termasuk secara formal melalui surat edaran Dewan Pers, untuk tetap mematuhi rambu-rambu etika dan tujuan kemaslahatan sosial.

Pesan serupa (seharusnya) direfleksikan model pemberitaan tentang musibah banjir di Ibukota RI, belum lama berselang. Rata-rata pemberitaan banjir Jakarta, menurut penilaian saya, terasa lebih berkecenderungan mengumbar ekspresi syahwat politik ketimbang memuarakan solusi teknis efektif dan semangat kemanusiaan. Media seolah-olah membuka diri, menyediakan ruang bagi kepentingan-kepentingan politik kekuasaan bertarung head to head.

Jurnalisme hakiki, apabila kita meresapi sebagai tugas etis, seharusnya mengetengahkan orientasi tidak kalah penting, ketimbang hanya eksplorasi mengenai eksklusivitas unggahan informasi demi kepentingan survivalitas perusahaan media. Orientasi itu adalah kepentingan kemanusiaan. Pertanyaan, apakah tujuan berjurnalistik sekadar menumpang jiwa bisnis media, atau sebaliknya? Atau boleh jadi, ada jalan tengah keberiringan antara ideologi media dan tujuan membangun perusahaan sehat

Kondisi perusahaan sehat tidak selalu dihadirkan oleh kemenangan rating atau unjuk viral dari model-model bermedia, bermagnet penyajian sensasi. Yang harus dibangun, justru bagaimana good news menjadi penyangga bagi kekuatan berita-berita mengilhami atau inspirational news.

Sensasi dan magnetnya ada pada kehendak mewujudkan impian masyarakat tentang keteladanan, kebutuhan akan contoh-contoh kisah sukses dari para “hero” dalam berbagai bidang kehidupan. Model jurnalistik ini akan menjadi semacam “klinik” memberi pencerahan kepada masyarakat.

Nalar inspirational news ini tidak lantas membatasi sifat kritis media yang menjadi representasi kontrol masyarakat terhadap penyelenggaraan negara dan pemerintahan di semua lini. Fungsi media memberi informasi dan mengedukasi, sebagai wujud ekspresi kemerdekaan pers, tetap melekat, karena orientasi sajian pemberitaan adalah untuk kontribusi menciptakan kemaslahatan bersama.

Tujuan kemanusiaan

Sikap etis dalam pemberitaan virus Corona dan banjir Jakarta, dari perspektif ini, adalah untuk tujuan kemanusiaan menyelamatkan bangsa. Peran ini boleh jadi amat berat disangga realitas kekuatan wartawan dan media, akan tetapi sebagai representasi masyarakat menyalurkan pendapat, etika kewartawanan dan bermedia menjadi moralitas profetik harus terawat dan konsisten ditransformasi sebagai “laku”. Dan, seperti pada peristiwa virus Corona, dunia media kita mendapat ruang nyata unjuk keberpihakan kepada maslahat.

Dikutip dari buku Adab Jurnalistik, makin banyak bukti betapa media berperan secara determinatif dalam menemukan, mengangkat, membuka, lalu mendorong penyelesaian persoalan-persoalan publik. Keterangkatan kasus-kasus korupsi, penangkapan bandar narkotika, dan berita-berita di seputar terorisme, memperlihatkan peran masif media membangun kemaslahatan publik.

Kegairahan orang-orang media boleh jadi tidak hanya didorong orientasi “kebaikan” sebagai jabaran fungsi ideal berjurnalistik. Karena, memang terdapat sisi-sisi lain yang terkait dengan perkembangan praksis jurnalisme lantaran perkembangan pesat teknologi informasi (Amir Machmud NS: 2017).

Tata krama pemberitaan di seputar virus Corona merupakan bentuk keterlibatan berorientasi pada produk “kebaikan bersama”. Yakni, agar tidak menimbulkan peningkatan kepanikan, memberi pengetahuan bersikap preventif, mendorong hidup lebih sehat, menguatkan kemampuan teknis wartawan dan media dalam mengemas pesan-pesan, dan mengelola kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah.

Dari sisi kewartawanan, tentu bertujuan agar tidak muncul bias dalam penyajian informasi yang justru kontraproduktif dengan tujuan berjurnalistik dan bermedia. Model itu tentu sama dengan idealita tata krama di seputar pemberitaan banjir. Agar media tidak terjebak di tengah pertarungan politik secara verbal tampak dan terasa dari aneka pernyataan, baik dari lingkaran Anies Baswedan cs (Pemerintah DKI Jakarta) maupun dari lingkaran oposannya, termasuk dari kalangan pemerintah pusat.

Keterjebakan pada kampanye politik saling memojokkan itu berpotensi bias untuk melalaikan tugas utama berupa ikhtiar menemukan “kebenaran jurnalistik”. Yang memberi kontribusi terhadap solusi efektif dalam manajemen pengendalian banjir di Ibu Kota. Kalau sikap kita maknai sebagai misi jurnalisme, maka pijakan pada kode etik akan menuntun praktik berjurnalistik kita sebagai seorang “wartawan negarawan”.

Bukankah, seperti disampaikan Bill Kovach dan Tim Rosenstiel dalam buku legendaris Elemen-elemen Jurnalisme, kode etik dan misi jurnalisme menghasilkan kesaksian yang sama? Tujuannya, seperti dalam Kode Etik American Society of Newspaper Editors, “untuk melayani kesejahteraan umum dengan menginformasikan berita kepada orang-orang”.

Pernyataan kemudian menjadi klasik dalam praksis ini adalah, “Berikan sinar, dan orang-orang akan menemukan jalan mereka sendiri” (Kovach & Rosenstiel: 2004). Dari pemaknaan untuk tujuan kebaikan bersama, inilah sejatinya nalar “jurnalisme inspiratif” yang harus terus menerus kita rawat dan kembangkan.

*Amir Machmud NS, wartawan senior dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here