
ANAMBAS, KABARTERKINI.co.id – Dibalik senyum polos seorang anak, tersimpan harapan besar tentang masa depan. Namun ancaman itu nyata. Stunting bukan sekadar soal tubuh lebih pendek dari anak seusianya, melainkan tentang mimpi yang bisa teredupkan sejak dini, perkembangan otak tidak maksimal dan potensi terhambat sebelum sempat berkembang.
Sedangkan di panggung pembangunan nasional, Kabupaten Kepulauan Anambas pernah tercatat sebagai salah satu lokus stunting pada 2022 bersama ratusan kabupaten dan kota lain di Indonesia. Berdasarkan standar World Health Organization atau WHO, ambang batas prevalensi stunting adalah 20 persen.
Data Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat atau E-PPGBM menunjukkan secercah harapan. Angka stunting di Kepulauan Anambas sebelumnya berada di angka 3,90 persen pada 2024, berhasil ditekan menjadi 3,79 persen pada 2025. Penurunan ini mungkin terlihat kecil di atas kertas, tetapi di baliknya ada kerja keras, keringat, dan komitmen yang tidak sederhana.
Lawan stunting
Bupati Kepulauan Anambas Aneng menegaskan melawan stunting bukan hanya urusan tenaga kesehatan melainkan urusan seluruh elemen masyarakat. Artinya, ini adalah panggilan untuk semua, baik berada di pemerintahan, perguruan tinggi, dunia usaha atau keluarga di rumah.
Sedangkan pemerintah daerah telah mengambil berbagai langkah penting, seperti penimbangan rutin balita di Posyandu. Pemberian vitamin, makanan tambahan bagi ibu hamil dan ibu dengan kekurangan energi kronis. Penguatan ketahanan pangan, peningkatan konsumsi sayur dan ikan, edukasi PAUD, perbaikan sanitasi dan air bersih hingga perlindungan sosial bagi keluarga rentan.
“Semua bergerak dalam satu irama, yakni menyelamatkan masa depan anak-anak Anambas,” kata Aneng saat memimpin rapat koordinasi Pra Musrenbang Tematik dan Rembug Stunting di Kantor Bupati Kepulauan Anambas, Rabu 25 Februari 2026.

Kecamatan sebagai motor penggerak
Sementara dalam Pra Musrenbang Tematik Stunting dan Rembug Stunting tingkat kabupaten, politisi Partai Demokrat itu meminta para camat dapat menjadi motor penggerak demi memastikan desa dan kelurahan mengalokasikan dananya untuk lima layanan pokok, yaitu kesehatan ibu dan anak, konseling gizi terpadu, perlindungan sosial, sanitasi dan air bersih, serta pendidikan anak usia dini.
“Desa dengan angka stunting tinggi didorong untuk tidak sekadar menjalankan program, tetapi melahirkan inovasi. Karena melawan stunting bukan hanya soal rutinitas, melainkan keberanian menciptakan terobosan,” kata Aneng.
GASING siap bantu anak tumbuh optimal
Gerakan Anambas Sehat dan Bebas Stunting atau di singkat GASING, menurut Aneng, merupakan simbol bahwa Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas memilih bangkit dan melawan. GASING bukan sekadar akronim, tetapi gerakan kolektif seluruh elemen masyarakat untuk memastikan tidak ada lagi anak kehilangan hak tumbuh optimal.
Sedangkan Rembug Stunting menjadi momentum sakral. Di forum itu, komitmen diperbarui. Program preventif dan promotif dirancang. Edukasi bagi ibu hamil diperkuat. Targetnya, menurunkan prevalensi stunting pada anak di bawah dua tahun dan melahirkan generasi sehat, cerdas dan tangguh.
“Sebelumnya saya mengapresiasi kepada sembilan desa yang telah mencapai zero atau nihil stunting. Sebuah capaian membuktikan bahwa perubahan itu mungkin. Kerja keras dan kolaborasi mampu mengubah angka menjadi harapan baru,” kata Aneng.
“Kini, Kepulauan Anambas berdiri dengan tekad lebih kuat. Karena stunting bukan sekadar statistik, melainkan tentang masa depan anak bangsa. Masa depan itu sedang diperjuangkan, hari ini, di bumi Anambas tercinta,” katanya lagi, mengakhiri. (*Yady)
Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id










