Raksasa Gas Natuna Barat, 75 Persen Dikuasai Adik Presiden Prabowo, Nilainya Fantastis

0
264
LAUT China Selatan. (Foto: BBC/UNCLOS/CIA)

NATUNA, KABARTERKINI.co.id – Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden RI Prabowo Subianto, masuk ke salah satu proyek gas terbesar di Natuna Barat, tepatnya Blok Duyung, Cekungan West Natuna. Melalui anak usaha PT Nations Natuna Barat, Arsari tengah merampungkan akuisisi 75 persen hak partisipasi atau participating interest (PI)-nya.

Dilansir dari katadata.co.id, Senin 11 Januari 2026, Blok migas tersebut mengelola lapangan gas Mako, saat ini dikembangkan perusahaan migas asal Australia, Conrad Asia Energy Ltd dalam skema Kontrak Bagi Hasil Produksi (PSC) Duyung. Aksi korporasi ini ditargetkan rampung sebelum batas akhir pada kuartal ketiga 2026.

Data diterima, Conrad Asia Energy bersama anak usahanya West Natuna Exploration Limited (WNEL), menandatangani perjanjian dengan PT Nations Natuna Barat pada November 2025 lalu. Selain mengambil saham mayoritas, Nations juga akan menyediakan pendanaan 100 persen biaya pengembangan Lapangan Gas Mako serta modal kerja.

Dalam skema Nations membiayai porsi 75 persen PSC dan sekaligus menanggung bagian WNEL hingga fase pertama pengembangan Mako. Sementara Arsari Group bakal membayar ke WNEL sebesar US$ 16 juta atau sekitar Rp268,88 miliar (kurs: Rp16.805 per dolar AS) untuk 75 persen PI.

Pembayaran itu bakal dibayar dalam tiga tahap, pertama senilai US$ 5 juta atau Rp84,02 miliar pada kuartal pertama 2026, setelah syarat pendahuluan terpenuhi. Kedua senilai US$ 4 juta atau Rp67,22 miliar pada kuartal ketiga 2026, setelah transaksi tuntas. Ketiga US$ 7 juta atau senilai Rp117,63 miliar pada saat produksi komersial pertama pada kuartal keempat 2027.

Usai transaksi rampung, WNEL akan mempertahankan 25 persen PI dan tetap menjadi operator PSC Duyung. Porsi WNEL, diperkirakan akan sepenuhnya ditanggung (carried) hingga produksi komersial pertama, tergantung persetujuan pemerintah Indonesia.

Pendanaan WNEL akan diatur melalui Conrad Loan Agreement (CLA), di mana pengembalian dilakukan dari bagian pendapatan produksi. WNEL juga berhak menerima kembali 75 persen dari biaya historis PSC setelah pelunasan CLA.

Total dana dibutuhkan membawa Lapangan Gas Mako sampai tahap produksi pertama diperkirakan mencapai US$ 320 juta atau Rp5,37 triliun. Skema pendanaan melalui CLA sudah disiapkan untuk menutup kebutuhan dana bagian WNEL, termasuk uang muka proyek, cadangan jika biaya membengkak, bunga selama masa pembangunan, serta modal kerja.

Selain itu produksi gas pertama dari Lapangan Mako tetap ditargetkan mulai berjalan pada kuartal keempat 2027. Managing Director dan Chief Executive Officer Conrad, Miltos Xynogalas mengatakan grup usaha yang terafiliasi dengan Nations sudah aktif di bisnis hulu migas internasional sekitar 20 tahun. Sehingga menjadi mitra kuat untuk proyek Mako.

Menurut Xynogalas, memiliki mitra lokal yang visi dan kepentingannya sejalan dengan Conrad sangat positif, tidak hanya bagi proyek Mako, tetapi juga bagi Conrad dan industri gas Indonesia. Jadi, pendanaan berhasil dikumpulkan untuk membawa Mako ke tahap produksi merupakan pencapaian besar bagi Conrad.

Meski melepas mayoritas saham proyek, WNEL memegang 25 persen kepemilikan dan tetap menjadi operator. Xynogalas juga mengaku transaksi ini sebagai titik balik penting dalam delapan tahun perjalanan Conrad mengembangkan proyek Mako.

Selama periode tersebut, WNEL telah menemukan lapangan, melakukan evaluasi, memperoleh persetujuan Rencana Pengembangan (POD), hingga menandatangani kontrak penjualan gas dengan perusahaan listrik terbesar di Indonesia.

“Kami antusias membawa pengembangan ini ke tahap berikutnya dan berkontribusi pada pasokan energi domestik Indonesia yang sangat dibutuhkan,” katanya. Sementara Wakil Direktur Utama Arsari Group, Aryo P.S. Djojohadikusumo di konfirmasi katadata.co.id namun tidak dijawab hingga berita ini ditayangkan.

Rencana Jangka Panjang

Lapangan Gas Mako memiliki Sumber Daya Kontingen 2C sebesar 376 miliar kaki kubik (bcf). Setelah transaksi rampung, 63 bcf gas penjualan akan menjadi bagian bersih milik Conrad (setelah pengambilan pemerintah), mencerminkan pengurangan porsi kepemilikan WNEL dari 76,5 persen menjadi 25 persen.

Pengembangan Mako bakal dilakukan dua fase, di mulai dengan enam sumur pengembangan awal yang terhubung ke Mobile Offshore Production Unit atau MOPU. Gas dijalankan melalui pipa 18 inci sepanjang 59 km ke platform di PSC Kakap, terhubung ke West Natuna Transport System (WNTS).

Lalu disalurkan ke pasar domestik melalui cabang pipa ke Pulau Pemping, yang dibangun PT PLN Energi Primer Indonesia atau PLN EPI. Dua sumur tambahan dapat di bor dua tahun setelah produksi pertama jika diperlukan.

Kapasitas MOPU dirancang 172 million standard cubic feet per day (MMscfd). Kemudian gas akan dijual ke PLN EPI hingga akhir PSC Duyung pada Januari 2037. Adapun volume penjualan plateau sebesar 111 british thermal unit per day (BBtud), setara dengan 111,9 million standard cubic feet per day (MMscfd), mencakup seluruh sumber daya kontingen 2C Mako. (*arsih)

‎Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini