Survei Global 2026, Ahli AI Sulit Dicari di Asia Pasifik dan Timur Tengah

0
250
FOTO ManpowerGroup 2026 Global Talent Shortage APME Findings

SINGAPURA, KABARTERKINI.co.id – Kelangkaan Sumber Daya Manusia atau SDM terus meningkat di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah. Sehingga menjadi momen krusial bagi banyak perusahaan dan perekonomian.

Berdasarkan Survei Global Talent Shortage 2026 dari ManpowerGroup, sebanyak 71 persen perusahaan di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah mengaku kesulitan mengisi lowongan kerja, hampir sama dengan rata-rata global sebesar 72 persen.

Survei ini melibatkan lebih dari 39.000 perusahaan di 41 negara, termasuk 12.193 perusahaan di 10 pasar di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah. Hasilnya menunjukkan tantangan rekrutmen berbeda-beda di setiap negara.

Misalnya di Jepang 84 persen dan India 82 persen menghadapi tingkat kelangkaan SDM paling tinggi. Disusul Uni Emirat Arab 76 persen dan Tiongkok 48 persen dengan tingkat kelangkaan SDM terendah.

BACA JUGA :  Wakili Wabup, Staf Ahli Setda Karimun Safari Ramadhan di Masjid Nurul Akbar, Kundur Barat

Secara global, Slowakia 87 persen, Yunani 84 persen dan Jepang mencatat tingkat kelangkaan SDM tertinggi. Finlandia 60 persen dan Polandia 57 persen termasuk yang terendah bersama Tiongkok.

Meskipun berbeda-beda di setiap negara, keahlian bidang Artificial Intelligence atau AI alias Kecerdasan Buatan secara konsisten menjadi kompetensi yang paling sulit ditemukan di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah.

Dua keahlian teratas mencakup Pengembangan Model dan Aplikasi AI 27 persen, serta Literasi AI 26 persen. Sementara, keahlian konvensional dalam bidang TI dan data berada pada peringkat keenam atau 18 persen.

“Perkembangan AI telah mengubah lanskap keahlian kerja dan proses rekrutmen di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah secara mendasar,” kata François Lançon, Regional President, Asia Pacific & Middle East, ManpowerGroup dikutip dari keterangan tertulis, Ahad 1 Maret 2026.

BACA JUGA :  Box Culvert Jebol, Jalan Rusak, Belum Ada Perbaikan, Nasib Warga Jalan Tok Atu, Sual, Natuna

Kini, menurut François, keahlian AI bukan lagi kompetensi khusus, namun menentukan daya saing tenaga kerja di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah. Setelah banyak perusahaan mempercepat adopsi AI, pemimpin perusahaan perlu bergerak dalam berbagai tahapan sekaligus.

Pihak perusahaan harus mendukung karyawannya menghadapi transformasi cepat agar mampu beradaptasi dengan perubahan berbasis AI, serta mempersiapkan masa depan dengan mengembangkan keahlian AI yang lebih mendalam dan relevan.

“Pada saat yang sama, proses rekrutmen berubah dengan cepat. Sehingga perusahaan harus membangun, merekrut atau memanfaatkan sumber daya untuk memperoleh kandidat tenaga kerja yang menguasai keahlian AI,” katanya mengakhiri. (*Andi)

Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini