
NATUNA, KABARTERKINI.co.id – Langkah kaki Mat Kasum -nama disamarkan- terlihat lunglai, Rabu 18 Februari 2026. Sebab di awal menyambut puasa Ramadhan 1447 Hijriyah, kontraktor Natuna itu, tidak punya uang sepersen pun alias tidak punya uang sama sekali.
Padahal sebelumnya, bersama keluarga, Mat Kasum telah berhemat ekstrem atau makan seadanya. Jual barang layak pakai sebagai penghasilan tambahan dan sering pinjam uang dengan saudaranya. Berusaha tetap tenang dan berfikir jernih agar bisa bertahan dalam situasi krisis ekonomi.
Namun pertahanan jebol, wajah di buat seolah-olah tenang, akhirnya terpancar. Warga Ranai, Ibukota Kabupaten Natuna itu, tidak mempunyai uang sepersen pun, bukan kesalahannya, melainkan kesalahan Pemerintah Kabupaten Natuna.
Karena belum membayar sejumlah proyek pembangunan fisik telah rampung di kerjakan kontraktor pada 2024 lalu, salah satunya dilaksanakan Mat Kasum. Dari utang belum di bayar, petaka ekonomi keluarganya pun bermula.
“Nilai proyek saya kerjakan dua tahun lalu, tidak besar,” katanya di salah satu kedai kopi di Ranai. “Maklum kontraktor kecil, dalam pekerjaan, saya menggunakan anggaran pinjaman, untuk bayar upah pekerja dan membeli material di toko.”
Dari uang pinjaman ini, menurut Mat Kasum, menjadi bumerang bagi ekonomi keluarganya. Meski pun bukan pinjaman berbunga, rasa tidak enak hati pada sang peminjam selalu menjadi mimpi buruk dalam kehidupannya sehari-hari.
“Semoga 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Natuna fokus membayar utang proyek 2024,” katanya tampak memelas. “Walau pun pada 2025, sejumlah kegiatan atau proyek juga meninggalkan utang.”
Jainudin -nama samaran warga lainnya- dalam menyambut awal Ramadhan, keluarganya harus ikat pinggang. Pegawai Negeri Sipil atau PNS di salah satu instansi Pemerintah Kabupaten Natuna ini, harus menerapkan ikat pinggang, sebab Tunjangan Penghasilan Pegawai atau TPP bulan lalu belum cair.
“Berharap SK gaji PNS telah di sekolahkan alias digadai ke bank,” kata warga asli Natuna ini sambil menambahkan, pinjaman ke bank dipergunakan untuk anak kuliah di luar daerah. “Jadi harapan satu-satunya, tunjangan penghasilan itu.”
Salah seorang pedagang kelontong menceritakan pengalaman berjualan di Ranai. Sejumlah pegawai biasa berutang, setiap cair TPP baru di bayar lunas. Ambil barang di tokonya telah lama berlangsung. Hanya dua tahun ini terus menjadi polemik.
“Pernah salah seorang pegawai sambil memohon utang susu anak di tokonya,” kata sang pedagang. “Terus terang, saya dilema, diberi utang masih menumpuk, tidak diberi ada rasa kemanusiaan.”
Dengan kisah cukup fenomena di lapangan, dalam menyambut Ramadhan 1447 Hijriyah ini, dapat di simpulkan, ekonomi Natuna masih gelap gulita. Pemerintah Kabupaten Natuna, terutama pemimpinnya harus segera mengambil sikap, bagaimana mencari solusi agar ekonomi masyarakat kabupaten perbatasan ini terhindar dari krisis kedepannya. (*andi)
Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id










