U.S. Soy Peringati 45 Tahun Kemitraan dengan Indonesia

0
126
FOTO PRNewswire

INDONESIA, KABARTERKINI.co.id – U.S. Soybean Export Council (USSEC) memperingati 45 tahun kemitraan dengan Indonesia, serta hubungan yang telah turut mendukung perkembangan industri pangan, pakan dan akuakultur.

Selama lebih empat dekade, dikutip dari PRNewswire, Selasa 15 September 2026, Indonesia telah berkembang menjadi salah satu pasar strategis bagi U.S. Soy.

Selain itu, Indonesia juga tercatat sebagai pengimpor kedelai terbesar di Asia Tenggara untuk kebutuhan pangan dan salah satu pengimpor kedelai utuh asal AS terbesar di dunia.

Dengan momen penting ini, menandai kemitraan yang terus berkembang melalui kolaborasi, pertukaran keahlian teknis dan komitmen bersama guna mendukung kemajuan sektor pangan dan pertanian Indonesia.

Seiring dengan perkembangan industri di Indonesia, U.S. Soy berkomitmen melanjutkan kerja sama dengan pemerintah, mitra industri, dan pelanggan untuk memperkuat ketahanan pangan, mendorong keberlanjutan, serta mengembangkan pasar dalam jangka panjang.

Kemitraan Terjalin Berlandaskan Kualitas dan Kemajuan Bersama

Selama 45 tahun, U.S. Soy dan Indonesia telah membangun kemitraan berlandaskan kualitas, konsistensi dan kesuksesan bersama. Saat ini, U.S. Soy memasok hampir 90 persen kebutuhan kedelai impor Indonesia.

Sebagian besar kedelai diolah menjadi berbagai pangan tradisional berbahan kedelai. Hal ini mencerminkan tingginya kepercayaan konsumen Indonesia terhadap U.S. Soy sekaligus kuatnya hubungan telah terjalin selama ini.

Permintaan Indonesia yang konsisten terhadap kedelai berkualitas tinggi, ditambah pertumbuhan sektor pakan dan akuakultur, semakin memperkuat kemitraan kedua pihak.

Ekspor kedelai AS ke Indonesia tercatat meningkat sebesar 348.000 metrik ton, sementara pangsa pasarnya diperkirakan naik dari 88 persen menjadi lebih dari 90 persen pada periode pemasaran berjalan, berlangsung dari 1 September 2025 hingga 31 Agustus 2026.

“Indonesia telah lama menjadi mitra penting bagi U.S. Soy di Asia Tenggara. Hubungan ini semakin kuat berkat kemajuan dan kepercayaan yang terjalin selama puluhan tahun,” kata Executive Director East Asia USSEC Carlos Salinas.

BACA JUGA :  Ngopi Pagi Bersama KBPP Polri Resor Natuna, Ini Pesan Kapolres

“Selama 45 tahun, kami bekerja sama dengan pelanggan dan mitra industri di Indonesia untuk mendukung perkembangan sektor pangan dan pakan melalui inovasi, keahlian teknis dan pertumbuhan berkelanjutan,” katanya lagi.

Perluas Peluang melalui Kolaborasi Strategis

Tradisi mengonsumsi tempe dan tahu yang telah mengakar kuat di Indonesia terus mendorong permintaan terhadap kedelai berkualitas tinggi. Konsumsi kedelai juga semakin meluas dari Jawa ke sejumlah pulau utama lainnya, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

Seiring dengan kebutuhan kedelai kian beragam dan tidak lagi terbatas pada pangan tradisional, peluang baru turut terbuka di sektor peternakan dan akuakultur Indonesia.

Saat ini, Indonesia mengimpor sekitar 6,0 juta metrik ton bungkil kedelai setiap tahun untuk kebutuhan pakan ternak, bahkan tingkat permintaan diproyeksikan tumbuh 29 persen pada 2035.

Penggunaan kedelai untuk pakan akuakultur juga diperkirakan meningkat 71 persen pada 2035. Sejalan dengan pertumbuhan produksi hasil laut Indonesia dan meningkatnya permintaan terhadap bahan baku sumber protein berkualitas tinggi.

Kemitraan USSEC dengan berbagai asosiasi industri di Indonesia turut memperkuat pengetahuan teknis, mendorong penggunaan U.S. Soy dalam pangan tradisional berbahan kedelai, serta mendukung pengembangan rantai nilai kedelai di Indonesia.

Bersama pemangku kepentingan lokal, asosiasi industri, dan United States Department of Agriculture (USDA), USSEC terus mendorong pertukaran pengetahuan teknis, pengembangan pasar, serta dialog mengenai prioritas perdagangan dan kebijakan yang terus berubah.

Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan di Seluruh Rantai Nilai Kedelai

Di tengah perkembangan industri pangan dan pakan Indonesia, isu keberlanjutan menjadi salah satu fokus utama dalam kemitraan U.S. Soy dan Indonesia.

BACA JUGA :  KPUD Verifikasi Faktual Dua Paslon Bupati dan Wabup Kepulauan Anambas Jalur Independen

Program seperti U.S. Soy Sustainability Assurance Protocol (SSAP), serta label Sustainable U.S. Soy memberikan jaminan yang sahih dan independen untuk mendukung praktik pengadaan kedelai bertanggung jawab, ketertelusuran, dan ketahanan rantai pasok di Indonesia.

Komitmen ini sejalan dengan misi USSEC memperkuat kemitraan jangka panjang, mendorong penggunaan U.S. Soy yang diproduksi secara berkelanjutan, serta membantu pelanggan memenuhi kebutuhan sistem pangan dan pakan modern.

“Selama puluhan tahun, U.S. Soy telah bekerja sama dengan mitra di berbagai belahan dunia untuk membangun rantai pasok kedelai yang andal dan berkualitas tinggi, dan Indonesia menjadi bagian penting dari upaya global tersebut,” kata Jim Sutter, CEO USSEC.

“Seiring meningkatnya kebutuhan pangan dan pakan secara global, pelanggan membutuhkan bahan baku yang andal serta hubungan yang tepercaya. USSEC berkomitmen mendukung Indonesia melalui solusi berkelanjutan, dukungan teknis, dan pasokan yang konsisten, serta sesuai dengan kebutuhan sistem pangan dan pakan modern,” katanya lagi.

Guna menopang pertumbuhan industri pangan dan pakan Indonesia, U.S. Soy berkomitmen mempererat kolaborasi, mendorong produksi berkelanjutan, dan memperkuat ketahanan rantai pasok untuk memberikan manfaat bagi produsen, manufaktur, maupun konsumen.

USSEC akan terus bekerja sama dengan lembaga pemerintah, mitra industri, dan pelanggan untuk mendorong inovasi, memperluas pertukaran keahlian teknis, serta membuka peluang baru yang mendukung ketahanan pangan dan pengembangan sektor pertanian Indonesia dalam jangka panjang. (*Red)

Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini