Gelar Sarasehan di Gunungkidul, AFJ Sosialisasi Sistem Peternakan Telur Bebas Sangkar

0
101
SARASEHAN Peternak Gunungkidul 2026 di Playen pada Rabu 15 April kemarin

GUNUNGKIDUL, KABARTERKINI.co.id — Permintaan telur sistem bebas sangkar atau cage free di Indonesia terus bertumbuh. Hal ini seiring dengan meningkatnya perhatian konsumen dan pelaku usaha terhadap kesejahteraan hewan dalam rantai pasokan pangan.

Namun ketersediaan pasokan dari peternak masih belum mampu mengimbangi kebutuhan. Kesenjangan ini menjadi tantangan, sekaligus peluang bagi sektor peternakan ayam petelur.

Agar mereka dapat bertransformasi menuju sistem produksi lebih memperhatikan kesejahteraan hewan. Untuk menjawab kesenjangan ini, Animal Friends Jogja (AFJ) menyelenggarakan Sarasehan Peternak Gunungkidul 2026 di Playen pada Rabu 15 April kemarin.

Dalam Serasehan diikuti 37 peternak ayam petelur serta dihadiri perwakilan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul dan perwakilan Pembina Program Ayam Merah Putih Gunungkidul. Dengan Sarasehan ini menjadi ruang bagi peternak memahami penerapan kesejahteraan hewan,
sekaligus peluang pasar dari sistem bebas sangkar berkembang.

“Permintaan terhadap telur bebas sangkar terus bertumbuh,” kata Direktur Program Advokasi Kesejahteraan Hewan AFJ Elly Mangunsong dikutip dari keterangan tertulis, Rabu 22 April 2026.

BACA JUGA :  TMMD ke-118 di Desa Selemam, Dandim 0318/Natuna Gelar Bazar Murah

Namun, sambung Elly, tanpa dukungan memadai, peternak akan kesulitan mengejar kebutuhan pasar yang sudah bergerak lebih cepat. Sehingga dengan penerapan prinsip ini, hewan diternakkan harus bebas.

Dimulai dari rasa bebas lapar, sakit, stres serta memiliki ruang mengekspresikan perilaku alaminya, seperti bergerak, bertengger dan bersarang. Yang sulit terpenuhi dalam sistem kandang baterai yang masih banyak digunakan saat ini.

PARA peserta yang hadir

“Di Indonesia, kesejahteraan hewan telah memiliki dasar hukum melalui Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan serta diperkuat Peraturan
Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025,” kata Elly.

Global Food Partners Anom Yusuf menambahkan, dalam kegiatan Sarasehan kemarin, para peserta mendapatkan pemaparan mengenai implementasi sistem bebas sangkar, termasuk manajemen pemeliharaan ayam petelur skala kecil hingga menengah. Termasuk, kata Yusuf, “Pengelolaan kandang, pakan hingga tantangan penerapannya di tingkat peternak.”

Animal Welfare Specialist AFJ drh. Aisah Nurul Fitri menuturkan, penerapan sistem bebas sangkar perlu diiringi dengan pengelolaan kesehatan pada ayam petelur yang baik agar produktivitas dan kesejahteraan berjalan seiring.

BACA JUGA :  Tiba di Palangkaraya, Presiden Gunakan Heli Merah Putih Menuju Kapuas

“Inti dari kegiatan Sarasehan kemarin, kita memberikan pemahaman kepada para peternak, agar dapat meningkatkan produktifitas ditengah permintaan semakin meningkat di pasaran,” kata Aisah.

Ketua Tri Manunggal Bhakti Agung Setyoleksono menyampaikan meningkatnya perhatian konsumen terhadap kesejahteraan hewan membuka peluang bagi peternak mengembangkan sistem produksinya. Tanpa dukungan yang terarah, kesenjangan antara permintaan dan pasokan berpotensi semakin melebar.

“Oleh karena itu, AFJ menyarankan perlu kolaborasi lintas sektor, dimulai dari peternak, pemerintah hingga pelaku usaha. Sebab kolaborasi ini merupakan kunci utama memastikan transisi menuju sistem bebas sangkar dapat berjalan secara nyata dan berkelanjutan,” kata Agung mengakhiri. (*Andi)

Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini