Jalan Panjang Tingkatkan Value Diri

0
120
FOTO istimewa

Oleh: Muti Arta Simamora

ANTARA riuh rendah suara rapat serta tumpukan agenda organisasi, seringkali muncul pertanyaan paling bising dan justru datang dari kepala sendiri, “Apakah aku benar-benar pantas berada di sini?” Sebaris pertanyaan, mungkin terdengar seperti bentuk ketidakpercayaan diri, namun bagi sebagian orang, ia adalah kompas hidup.

Ia merupakan titik berangkat bagi sebuah perjalanan panjang untuk meningkatkan value atau nilai diri, bukan melalui tepuk tangan orang lain, melainkan melalui proses penuh peluh dan perjuangan.

Bermula dari Baris Biasa

Langkah itu bermula dari posisi barangkali terlihat jamak, anggota OSIS. Di sana, tidak ada sorot lampu berlebih. Namun, di balik seragam rapi itu, ada proses pendisiplinan sedang bekerja. Menghargai pendapat orang lain dan belajar melebur dalam kerja tim menjadi fondasi awal.

Di titik ini, value diri bukan tentang siapa paling vokal, melainkan siapa paling mampu mendengar dan menempatkan ego di bawah kepentingan bersama. Keberanian melangkah lebih jauh kemudian membawa diri pada kursi Wakil Ketua OSIS.

Sebuah transisi yang tidak hanya mengubah status, tapi juga beban di pundak. Tanggung jawab mulai terasa nyata, tekanan menjadi kawan sarapan pagi dan ketenangan di uji saat keputusan-keputusan krusial harus diambil dalam hitungan detik.

Saat Ragu Jadikan Guru

Menariknya, semakin tinggi jabatan dipangku mulai dari memimpin sebagai Ketua Angkatan Hukum hingga mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum 1 HIMA, keraguan itu bukannya menguap, malah seringkali kian mengental.

Ada paradoks unik di sini. Jabatan mentereng justru mengundang tanya lebih tajam tentang kelayakan diri. Di sinilah letak titik baliknya. Bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku sanggup memikul beban orang lain?”

Pertanyaan ini bukanlah tanda sebuah kelemahan. Sebaliknya, itu tanda kesadaran tinggi. Atau bukti, sebuah amanah tidak bisa dianggap enteng. Jadi value diri ternyata tidak terbentuk saat kita merasa paling hebat atau paling yakin.

Ia justru lahir dan mengeras saat kita memilih tetap maju, meski kaki gemetar. Saat kita tetap bertanggung jawab meski ketakutan akan kesalahan membayangi.

Lewati Proses Bukan Pembenaran

Pada akhirnya, kita mulai belajar, nilai seseorang tidak terpaku pada deretan titel tertulis di atas kertas legalitas. Titel hanyalah cangkang. Isinya adalah keberanian untuk terus mencoba, konsistensi dalam memegang janji dan keteguhan untuk tidak melarikan diri saat badai datang menghampiri.

Belajar meningkatkan value diri adalah tentang membuktikan pada diri sendiri, bukan pada dunia, bahwa kita layak bertumbuh melalui proses jujur. Bukan lewat pembenaran-pembenaran semu. Sebab, di setiap keraguan kita peluk dengan tanggung jawab, di sanalah sedang menenun kualitas diri sesungguhnya. ****

(Penulis: mahasiswi Ilmu Hukum UMRAH)

‎Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini