Luka Aurelie Moeremans dalam Broken Strings

0
140
FOTO istimewa

Oleh: Nadia Anastasya

DARI riuh rendah dunia, kita sering lupa mendengar, sebuah suara menyeruak dari balik sunyi. Lewat e-book bertajuk Broken Strings atau Senar yang Putus, Aurelie Moeremans tidak sekadar menulis, ia sedang memungut serpihan dirinya yang tercecer di masa lalu. Ia membuka kembali pintu kamar pengap, dalam ingatannya saat berusia 15 tahun, di mana keluguan seharusnya di rayakan, bukan di mangsa.

Kisahnya tentang relasi timpang dan pernikahan semu dengan pria yang usianya dua kali lipat darinya adalah sebuah alarm nyaring. Ini bukan sekadar cerita selebritas, melainkan cermin retak yang memantulkan wajah buram fenomena bernama child grooming atau proses manipulasi psikologis bertahap dilakukan orang dewasa (predator) untuk membangun hubungan dan kepercayaan dengan anak atau remaja, dengan tujuan akhir melakukan eksploitasi atau pelecehan seksual.

Fatamorgana Kasih Sayang

Child grooming adalah pencurian paling senyap. Ia tidak datang mendobrak pintu dengan wajah bengis, melainkan menyelinap lewat jendela hati terbuka setengah. Ia adalah proses sistematis di mana serigala belajar memakai topeng domba.

Sang pelaku menenun jaring kepercayaan dengan benang-benang perhatian dan empati palsu. Mereka menawarkan suaka bagi jiwa-jiwa muda yang sedang mencari muara. Di sanalah letak petakanya, ketika seorang remaja, khususnya perempuan, dengan segala gejolak pencarian jati diri dan dahaga akan validasi, bertemu dengan sosok menawarkan “dunia”.

Pelaku bakal menabur kata manis, menanamkan rasa ketergantungan, hingga korban merasa berutang budi pada cinta yang sebenarnya racun. Dalam skenario ini, pelaku mengukuhkan diri sebagai “kekasih” atau “teman dekat”. Namun, di balik label itu, tersembunyi belenggu manipulasi dan hasrat menguasai. Hubungan itu terlihat normal di permukaan, di dalamnya, kemerdekaan jiwa sang korban sedang dikikis perlahan-lahan.

Luka Disiram Cuka

Betapa kejamnya dunia ini, ketika korban jatuh tersungkur, justru dilempari batu. Fenomena victim blaming atau menyalahkan korban adalah hantu yang memperparah mimpi buruk itu. Dalam lembar ke-194 Bab 22 Broken Strings, Aurelie melukiskan perihnya momen itu, ketika seorang pengacara, alih-alih membela lukanya, justru menyudutkannya perihal surel bermuatan asusila kepada Bobby.

Di titik ini, korban diletakkan di kursi pesakitan, dituduh “mengundang” bencana, dan dianggap lalai. Kita lupa atau pura-pura lupa bahwa mereka adalah jiwa yang sedang berjalan di bawah tekanan psikologis tidak kasat mata.

Penghakiman sosial semacam ini tidak hanya merobek luka lama, tetapi juga membungkam mulut korban lain. Ketakutan akan di hakimi membuat mereka memilih menelan rasa sakit itu sendirian, dalam diam yang mencekam.

Bangun Benteng Bernama Rumah

Tragedi Aurelie adalah pengingat keras, pelaku grooming tidak memilih wajah, ia bisa mengetuk pintu siapa saja. Maka, tugas kita bukanlah menjadi hakim, melainkan menjadi telinga yang mendengar tanpa prasangka. Kita perlu menyediakan ruang aman dan tempat di mana rasa takut tidak lagi berkuasa.

Jaga Tunas Tidak Patah Sebelum Mekar

Pencegahan sejati tidak cukup hanya dengan memelototi layar digital. Kita harus menyentuh akar lebih dalam, kerentanan jiwa. Lalu, keluarga, sekolah dan lingkungan harus bertransformasi menjadi benteng literasi emosional.

Kita perlu mengajarkan anak-anak kita tentang definisi cinta yang sehat, tentang keberanian menetapkan batasan, dan tentang intuisi mengenali manipulasi sejak tatapan pertama.

Sehingga kelak, tidak ada lagi dawai masa depan yang harus putus. Meninggalkan lagu tidak pernah selesai dimainkan. Tetaplah menjaga tunas bunga agar tidak patah sebelum mekar. ****

(Penulis: Mahasiswi Ilmu Hukum UMRAH)

‎Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini