
AKP Nellay Boy dan personel gelar giat Subuh Berjamaah. Giat digelar, rangkaian dari program Suling
SUNYI menjelang fajar di Kota Ranai, Ibukota Kabupaten Natuna, Sabtu pekan lalu, langkah AKP Nellay Boy dan personel menyusuri jalan menuju Masjid Al-Jamik. Langkah kaki Kepala Polsek Bunguran Timur, Polres Natuna itu, bukan sekadar menunaikan kewajiban menghadap Sang Maha Pencipta, tetapi juga merawat ketulusan, pengabdian dan meneguhkan komitmen agar selalu hadir di tengah masyarakat.
Ketika sebagian besar masyarakat masih terlelap dalam dinginnya malam, suara gemercik air mulai terdengar di tempat wudhu, salah satu masjid paling tertua di Kota Ranai, ibukota kabupaten kepulauan perbatasan ditengah negara Asean ini. Air mengalir membasahi tangan, wajah, kepala dan kaki. Satu per satu personel Kepolisian itu mengambil air wudhu, mempersiapkan diri menyambut waktu subuh.
Di tengah kesunyian, ada sesuatu lebih dalam daripada sekadar rutinitas. Ada niat diluruskan, hati ditenangkan, sebelum mengemban tanggungjawab menjaga keamanan, sebagai anggota Bhayangkara membutuhkan petunjuk dan kekuatan dari Tuhan Maha Esa.
Saat azan berkumandang, panggilan itu seolah menjadi pengingat bagi setiap insan yang mendengar. Di tengah kesibukan, pangkat, jabatan, dan tanggung jawab duniawi, manusia tetaplah sama di hadapan Sang Pencipta. Semua memiliki kewajiban menundukkan kepala bersujud, merendahkan diri, serta memohon kekuatan agar mampu menjalani amanah kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Bagi personel Polsek Bunguran Timur, perjalanan menuju Masjid Al-Jamik bukan hanya sekedar sholat Subuh Berjemaah dari rangkaian dari giat Subuh Keliling atau Suling. Melainkan perjalanan batin, perjalanan menguatkan keteguhan hati agar tetap berdiri di atas nilai-nilai kejujuran, keadilan, kesabaran dan kemanusiaan.
Ketika seragam Kepolisian bertemu dengan kesejukan di rumah Alloh
Berseragam lengkap, AKP Nellay Boy dan jajaran masuk ke dalam Masjid Al-Jamik. Mereka bergabung dengan masyarakat yang telah lebih dahulu hadir. Di dalam masjid, tidak ada jarak yang dibangun oleh pangkat ataupun jabatan. Saf-saf sholat menyatukan semua orang dalam barisan yang sama. Polisi dan masyarakat berdiri berdampingan, menghadap kiblat, merendahkan diri di hadapan Sang Maha Pencipta.
Dalam keheningan sholat, seragam yang dikenakan para personel Kepolisian tidak menjadi pembeda. Yang tersisa adalah kesamaan sebagai manusia, sama-sama memohon perlindungan, keselamatan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan.
Sekitar 50 jamaah mengikuti ibadah subuh itu. Jumlahnya mungkin terlihat sederhana, tetapi dari kebersamaan terjalin di rumah ibadah, tumbuh ruang perjumpaan yang memiliki makna penting bagi hubungan antara Kepolisian dan masyarakat.
Sebab, kepercayaan tidak selalu lahir dari pertemuan besar atau kegiatan seremonial. Terkadang, kepercayaan tumbuh melalui kehadiran yang sederhana, sapaan tulus, kesediaan mendengar, serta kemauan berjalan bersama tanpa sekat.
Giat Suling menemukan makna
Menjadi anggota Polri berarti memikul tanggungjawab tidak ringan. Ada keamanan yang harus dijaga, persoalan masyarakat harus didengar, keadilan harus diperjuangkan dan kepercayaan publik harus dirawat setiap hari.
Namun, pengabdian tidak cukup hanya dimaknai sebagai pelaksanaan tugas berdasarkan aturan dan kewenangan. Pengabdian membutuhkan hati jernih, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta kepekaan memahami keadaan orang lain.
Melalui giat Suling, personel Polsek Bunguran Timur berupaya menghadirkan wajah Kepolisian yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan kehadiran aparat berbaju coklat itu, menjadi pengingat tugas mereka bukan semata-mata menindak pelanggaran atau menangani persoalan hukum, melainkan mencegah masalah, membangun komunikasi, dan menciptakan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat ini sejalan dengan slogan Polri Bersama Masyarakat. Sebuah slogan semangat yang menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai pihak yang harus dilindungi, tetapi juga sebagai mitra dalam menjaga keamanan dan ketertiban.
Sebab, keamanan berkelanjutan tidak mungkin dibangun oleh Kepolisian sendiri. Mereka membutuhkan partisipasi masyarakat, kepedulian antar instansi atau institusi, komunikasi yang terbuka, dan kesediaan semua pihak untuk menjaga lingkungan masing-masing.
Dari masjid, pesan kebersamaan itu menemukan ruangnya. Pertemuan dalam ibadah menjadi pintu mempererat silaturahmi, membuka komunikasi, serta membangun keyakinan Kepolisian selalu berupaya hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Mendengar sebelum berrtindak, melayani dengan hati
Kehadiran Kepolisian di tengah masyarakat semestinya tidak hanya terasa ketika terjadi gangguan keamanan, tindak kejahatan atau keadaan darurat. Lebih dari itu, masyarakat perlu merasakan, Polisi juga hadir dalam kehidupan yang tenang, dalam kegiatan sosial, dalam ruang ibadah, dan dalam keseharian yang sering kali luput dari perhatian.
Ketika masyarakat merasa dekat dengan Polisi, mereka diharapkan tidak ragu menyampaikan persoalan, melaporkan gangguan keamanan, ataupun meminta bantuan. Sebaliknya, ketika Polisi memahami kehidupan masyarakat secara lebih dekat, langkah-langkah pelayanan dan pemeliharaan keamanan dapat dilakukan dengan lebih tepat, bijaksana dan manusiawi.
Dalam konteks itu, giat Suling bukan sekadar hadir di masjid untuk melaksanakan sholat berjemaah. Giat ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan sosial, menumbuhkan rasa saling percaya dan memperkuat kemitraan dalam menjaga situasi Kamtibmas aman dan kondusif.
Sebab, rasa aman tidak hanya lahir ketika kejahatan berhasil dicegah. Rasa aman juga tumbuh ketika seseorang merasa didengar, dihargai, diperlakukan secara adil, dan mengetahui bahwa ada pihak yang bersedia membantunya ketika menghadapi kesulitan. Di sinilah tantangan pengabdian seorang Bhayangkara bukan hanya hadir secara fisik, melainkan menghadirkan manfaat melalui sikap, perkataan, dan tindakan.
Dari sujud menuju amanah pelayanan
Giat sholat Subuh Berjemaah itu berlangsung dengan tertib dan khusyuk. Di antara doa-doa yang dipanjatkan, tersimpan harapan agar setiap langkah kehidupan senantiasa mendapat petunjuk dan perlindungan dari Alloh Subhana Wa Ta’ala.
Bagi seorang anggota Kepolisian, doa juga menjadi pengingat tentang beratnya amanah dipikul. Kewenangan harus dijalankan dengan tanggungjawab. Ketegasan harus disertai kebijaksanaan. Penegakan hukum harus berjalan dengan menjunjung keadilan, menghormati hak setiap orang, dan tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan suara keras. Tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan pertentangan. Ada kalanya pendekatan yang santun, dialog terbuka, dan kesediaan mendengar justru menjadi jalan terbaik untuk menemukan penyelesaian.
Sementara sujud mengajarkan kerendahan hati. Doa mengajarkan ketergantungan kepada Sang Pencipta. Kebersamaan dalam saf mengajarkan persamaan derajat manusia. Sedangkan kehidupan di tengah masyarakat menuntut setiap insan Bhayangkara untuk menerjemahkan nilai-nilainya di dalam tindakan nyata.
Dengan demikian, ibadah tidak berhenti ketika salam diucapkan. Nilai ibadah semestinya terus hidup dalam cara berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan sesama, dan menjalankan tanggungjawabnya.
Bagi personel Polsek Bunguran Timur, makna pengabdian dapat diwujudkan melalui pelayanan yang tulus, perlindungan bertanggungjawab, serta komitmen menjaga kepercayaan masyarakat. Slogan Polri Bersama Masyarakat akan selalu hidup di kabupaten seribu pulau ini. (*)
(Karya tulis Kasi Humas Polsek Bunguran Timur Aipda David Arviad)
Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id











