Dua Ramadhan Utang Proyek Natuna Belum di Bayar Lunas

0
752
FOTO ilustrasi

Oleh: Andi Surya

KETIKA lagu Bang Toyib diplesetkan, “Dua kali Ramadhan, Ibu kok tidak bayar utang.” Lagu plesetan ini persis seperti nasib sejumlah penyedia jasa kontruksi Natuna, dua Ramadhan, yakni 1446 hingga 1447 Hijriyah, proyek telah rampung mereka kerjakan pada 2024, namun belum di bayar lunas Pemerintah Kabupaten Natuna hingga 2026.

Akibatnya pengusaha kontruksi, rata-rata punya modal cukup terbatas, anak dan istrinya harus ikat pinggang. Jangan bermimpi dalam menyongsong Lebaran Idul Fitri, khususnya tahun ini, dapat membeli baju baru serta hidangan bagi tamu-tamu yang datang bersilahturahmi. Untuk makan sehari-hari sudah terancam.

Dengan fenomena ini, hendaknya pengambil kebijakan, seperti Bupati Natuna Cen Sui Lan dan Ketua DPRD Natuna Rusdi segera mengambil sikap. Cari solusi, agar melunasi utang proyek 2024. Jangan kembali melakukan kesalahan, dengan membuat utang proyek baru pada 2025.

BACA JUGA :  Pantau Prokes di Sekolah, Ketua Komisi I DPRD Natuna Bagikan 1.000 Masker

Akibatnya, utang pun menjadi tumpang tindih. Lalu, jangan berstatmen tidak masuk di akal, utang proyek 2024, merupakan utang pemimpin sebelumnya. Sebagai pemimpin suatu wilayah harusnya memahami, utang pemimpin sebelumnya merupakan utang pemimpin berikutnya.

Karena seluruh kegiatan hasil dari Musyawarah Rencana Pembangunan atau Musrenbang dan merupakan aspirasi atau Pokok-pokok Pikiran alias Pokir masyarakat. Bukan tiba-tiba muncul dan di plot dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau Daerah (APBN/APBD).

Ketika aspirasi masyarakat itu dilaksanakan, seperti proyek pembangunan, otomatis menggunakan pihak kedua, yakni penyedia jasa kontruksi atau dikenal kontraktor. Dalam memperoleh proyek pun, para kontraktor akan mengikuti prosedur administrasi, dari lelang tender, non tender dan lainnya.

Proyek rampung dibangun, pemerintah pun berkewajiban membayar. Seandainya belum punya anggaran, jangan melaksanakan pembangunan tahun berikutnya, alias fokus bayar utang. Kontraktor lokal atau tempatan, rata-rata pengusaha kecil dengan modal terbatas.

BACA JUGA :  Gubernur Sebut 168 PMI Terkonfirmasi Covid-19 Bukan Warga Kepri

Bukan rahasia, setiap melaksanakan kegiatan pembangunan, bekerjasama dengan pemilik toko material. Ketika proyek rampung di kerjakan, pemerintah bayar, para kontraktor itu pun melunasi utang material dipakainya. Kerjasama ini, khususnya di Natuna telah lama berlangsung.

Seandai proyek tidak terbayar, selama dua tahun lamanya, bagaimana nasib sang kontraktor, khususnya keluarganya? Utang proyek belum terbayar, masuk Ramadhan 1447 Hijriyah, serta Hari Raya Lebaran pun di depan mata, sungguh tragis nasib keluarganya. Tolong dibayar utang-utang itu, Bu Bupati. ****

(Penulis: Pimpinan Perusahaan KABARTERKINI.co.id)

Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini