Cegah Kecelakaan Kerja, Kemnaker Ajak Tingkatkan Kematangan Budaya K3

0
136
WAMENAKER Afriansyah Noor (foto Biro Humas Kemnaker)

MOROWALI, KABARTERKINI.co.id – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus mendorong peningkatan kematangan budaya keselamatan kerja (safety culture maturity) sebagai langkah strategis menekan angka kecelakaan kerja dan mewujudkan lingkungan kerja aman, sehat, produktif serta berdaya saing.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor saat membuka Penilaian Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Morowali, Sulawesi Tengah, Selasa 23 Juni kemarin.

“Pembangunan ketenagakerjaan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri, tetapi juga memastikan setiap pekerja memperoleh perlindungan dan dapat bekerja secara aman, sehat dan bermartabat. Oleh karena itu, penerapan budaya K3) harus menjadi fondasi utama keberlanjutan industri nasional,” kata Afriansyah.

Meskipun tren kecelakaan kerja menunjukkan penurunan, menurutnya, risiko masih menjadi tantangan nyata di dunia usaha dan industri. Berdasarkan data, jumlah kecelakaan kerja pada 2024 tercatat sebanyak 462.241 kasus, sedangkan pada 2025 mencapai 319.382 kasus.

“Upaya pencegahan kecelakaan kerja tidak cukup hanya melalui pemenuhan aspek administratif dan kepatuhan terhadap regulasi K3. Dibutuhkan transformasi lebih mendasar melalui pembentukan budaya keselamatan tertanam dalam nilai organisasi, perilaku kerja dan praktik kepemimpinan sehari-hari,” kata Afriansyah.

BACA JUGA :  Perusahaan Luar Kuasai Proyek PL di Pemkab Lingga, Kenapa? (6)

“Budaya keselamatan yang matang akan mendorong perilaku kerja lebih aman, pengendalian risiko lebih efektif, serta kemampuan organisasi dalam mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Jadi peningkatan kematangan budaya keselamatan harus menjadi perhatian bersama,” katanya lagi

Berbagai penelitian menunjukkan, organisasi dengan tingkat kematangan budaya keselamatan lebih tinggi cenderung memiliki angka insiden lebih rendah dan kinerja keselamatan lebih baik. Oleh karena itu, menurut Afriansyah, penilaian safety culture menjadi instrumen penting untuk mengetahui kondisi aktual organisasi sekaligus menentukan langkah perbaikan terukur dan berkelanjutan.

“Saya mengapresiasi pelaksanaan penilaian budaya keselamatan di kawasan IMIP yang telah dilakukan Direktorat Bina Pengujian K3 Kemnaker pada 2025 lalu. Langkah ini merupakan investasi jangka panjang dalam membangun ekosistem industri aman, tangguh dan kompetitif,” katanya.

Tidak lupa, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menindaklanjuti hasil penilaian tersebut melalui penyusunan rencana aksi yang jelas, penguatan kepemimpinan keselamatan, peningkatan komunikasi risiko, penguatan kompetensi sumber daya manusia, serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi secara berkala.

BACA JUGA :  Kemilau Muharram 1448 Hijriyah, Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah Batam Gelar Pawai dan Syiar Islam

“Keberhasilan peningkatan kematangan budaya keselamatan membutuhkan komitmen seluruh pihak. Perusahaan, pimpinan unit kerja, pekerja, serikat pekerja, hingga pengelola kawasan industri harus bergerak bersama membangun budaya keselamatan yang kuat dan berkelanjutan,” kata Afriansyah.

Selain itu, ia berharap kawasan IMIP tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan industri nasional dan hilirisasi mineral, tetapi juga menjadi contoh kawasan industri dengan budaya keselamatan dan kesehatan kerja yang matang, adaptif, dan berkelanjutan.

“Melalui penguatan budaya keselamatan kerja, kita tidak hanya melindungi pekerja, tetapi juga meningkatkan produktivitas, keberlanjutan usaha, dan daya saing industri Indonesia,” kata Afriansyah mengakhiri. (*Budi)

Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini