Jika Berhasil Kuasai Laut China Selatan, Rudal Tiongkok Bisa Jangkau Jakarta

0
1685
DONG Feng, rudal balistik antar benua terbaru milik Tiongkok. Berdaya jangkau 14.000 kilometer

NATUNA, KABARTERKINI.co.id – Di balik ambisi China (Tiongkok) ingin menguasai seluruh Laut China Selatan. Kemungkinan berperang dengan Amerika Serikat (AS), bahkan tersimpan misi besar untuk memproyeksikan kekuatan militernya di negara-negara Asia Tenggara. Selain itu, Tiongkok juga ingin menguasai kekayaan sumber daya alam di wilayah ini.

Mengutip Forbes, melalui serambinews.com, Sabtu 22 Agustus 2020, sebuah wadah pemikir AS telah mengumpulkan peta interaktif tentang bagaimana pangkalan udara, rudal dan radar Tiongkok di Laut China Selatan disengketakan. Memungkinkan Beijing untuk memproyeksikan kekuatan militernya hingga ke Singapura, Vietnam dan Indonesia.

Peta disusun Pusat Kajian Strategis dan Internasional tersebut menggambarkan jangkauan senjata dan radar Tiongkok, yang ditempatkan di berbagai pulau kecil dan terumbu karang di Laut China Selatan.

Pesawat Pembom H-6 Tiongkok, berbasis di Pulau Woody, berjarak sekitar 400 mil dari Hong Kong, dapat menyerang target jauh di timur Filipina dan selatan Singapura, termasuk rute perdagangan internasional Selat Malaka hingga ibukota Indonesia, Jakarta.

Sementara Pesawat tempur J-11 Tiongkok, dapat menjangkau hingga Singapura, Balikpapan dan Laut Jawa di Indonesia, serta ke timur FIlipina. Kemudian Vietnam Selatan dan Malaysia akan berada dalam jangkauan kekuatan udara Tiongkok.

Demikian juga rudal anti kapal dan anti pesawat Tiongkok, dikerahkan di Kepulauan Spratly, sekelompok terumbu kecil di tengah Laut China Selatan. Memungkinkan rudal Tiongkok menjangkau seluruh wilayah Asia Tenggara, menurut peta CSIS.

Dari Mischief Reef, sekitar 900 mil tenggara Hong Kong dan 500 hingga 600 mil dari Manila dan Kota Ho Chi Minh, rudal jelajah anti-kapal YJ-62 dan YJ-12B Tiongkok dapat menyerang sejauh pantai Vietnam, Brunei dan Filipina pulau Palawan.

Peta CSIS ini menunjukkan bahwa dengan menguasai Laut China Selatan, Tiongkok dapat menempatkan radar sangat dibutuhkan untuk menemukan target pesawat tempur dan rudal.

Hanya dari pangkalan udara di Pulau Woody dan Mischief Reef, pesawat peringatan dini KJ-500 Tiongkok dapat mendeteksi pesawat terbang tinggi di seluruh Vietnam, dan sejauh Manila dan Tarakan. KJ-500 dapat mendeteksi kapal berlayar di sepanjang pantai Vietnam, Brunei dan Palawan.

Pakar urusan Asia CSIS, Greg Poling, mengatakan, peta itu menunjukkan pentingnya Laut China Selatan untuk memproyeksikan kekuatan Beijing di wilayah tersebut.

“Jika Tiongkok tidak memiliki fasilitas di Spratly, tidak akan dapat menempatkan pesawat patroli dan jet tempur di atas Selat Malaka atau Indonesia tanpa pengisian bahan bakar udara atau menggunakan kapal induk di masa depan,” kata Poling.

Sementara Laut Cina Selatan, kaya sumber daya energi dan terletak di dekat jalur pelayaran sibuk, telah menjadi sengketa selama beberapa dekade. Tiongkok, Vietnam, Filipina, Taiwan, Indonesia, dan Malaysia, memiliki klaim yang bersaing di wilayah tersebut.

Sedangkan AS enggan membiarkan Tiongkok mengendalikan perairan yang disayangi begitu banyak sekutu Amerika. Poling percaya bahwa banyak pangkalan di Tiongkok meningkatkan peluang Beijing menguasai Laut China Selatan.

Manfaat utama dari fasilitas China saat ini adalah kemampuan memantau semua aktivitas di Laut China Selatan dan mendukung pengerahan penjaga pantai dan kapal milisi ke depan. Yang dapat dengan cepat menanggapi aktivitas apa pun oleh pihak-pihak Asia Tenggara yang tidak disukai Tiongkok.

Perlahan mendorong Asia Tenggara keluar dari perairan ini. Jika strategi itu terus bekerja sebaik telah dilakukan, Tiongkok akan mengendalikan Laut China Selatan dalam beberapa tahun tanpa harus melepaskan tembakan. (*andy surya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here