Jika Provokasi AS Berlanjut, Tiongkok Bakal Kerahkan Kapal Perang ke Laut China Selatan

0
1684
KAPAL induk Tiongkok (foto: FB)

Kabarterkini.co.id, Natuna – Tiongkok atau China memberikan peringatan kepada Amerika Serikat, agar tidak melakukan eskalasi militer lebih lanjut di Laut Cina Selatan. Kedua negara secara dramatis meningkatkan kehadiran angkatan bersenjata mereka di wilayah diperebutkan tersebut.

Selang beberapa hari setelah AS mengerahkan dua kapal induk ke Laut China Selatan, dilansir US News, melalui kontan.co.id, Selasa 21 Juli 2020,  dalam tindakan dipandang sangat langka, Tiongkok menilai AS sangat provokatif. Media pemerintah China pada Senin lalu, mengkonfirmasi pihaknya telah mengirim brigade pasukan penerbangan di kedua pulau dikelola di Kepulauan Paracel yang diperebutkan bersama dengan serangkaian kapal perang.

Tiongkok berencana melakukan “latihan serangan sasaran maritim tembakan langsung.” Sebagai tanggapan terhadap kehadiran militer AS yang meningkat di Laut China Selatan. Lalu, Tiongkok mengklaim, kehadiran AS adalah pendorong nyata militerisasi di laut itu.

“Jika provokasi militer AS di Laut China Selatan terus berlanjut, Tiongkok tidak memiliki pilihan, selain melakukan lebih banyak latihan dan mengerahkan lebih banyak kapal perang dan pesawat perang di Laut China Selatan,” lapor China Global Times.

Tiongkok juga dapat membangun zona pertahanan udara di sekitar wilayah. Yang dianggap mereka telah memicu pertikaian sengit dengan AS di masa lalu. Bahasa provokatif digunakan Tiongkok berfungsi sebagai penyelamatan terbaru dalam peningkatan dramatis, antara pemerintahan Presiden Trump dan pemerintahan Presiden China Xi Jingping dalam beberapa pekan terakhir.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada awal pekan lalu mengumumkan, Amerika akan mulai mengambil sikap baru melawan Beijing di Laut China Selatan. AS tidak melanggar sikap netral resmi, akan tetapi mengumumkan dukungan baru bagi sekutu dan mitra mengklaim pulau, terumbu, dan daerah penangkapan ikan sebagai milik mereka.

Pernyataan Pompeo ini muncul tidak lama setelah Beijing mengumumkan sanksi baru terhadap sejumlah anggota parlemen Amerika yang diyakini telah mengancam kedaulatan Tiongkok di wilayah Laut China Selatan. Tiongkok mengancam akan menjatuhkan lebih banyak sanksi terhadap pejabat Amerika.

Jika AS tidak mundur dari campur tangan dalam rancangan Beijing untuk Hong Kong. Pemerintahan Trump telah menggalang dukungan bipartisan yang langka di Kongres untuk menentang penerapan undang-undang keamanan nasional baru China di kota semi-otonomi secara luas dilihat sebagai upaya memaksakan kontrol penuh terhadap negara kota bekas jajahan Inggris tersebut.

Langkah Beijing terhadap Hong Kong, bersama dengan bentrokan keras di perbatasannya yang diperebutkan dengan India bulan lalu, telah mendorong banyak analis  meyakini, Tiongkok memanfaatkan dampak berkelanjutan dari pandemi virus corona global sebagai peluang mencapai tujuan teritorialnya lebih luas.

Mengingatkan saja, melansir CNN, dua kapal induk Angkatan Laut AS telah memulai kembali latihan ganda yang jarang terjadi di Laut China Selatan, untuk kedua kalinya bulan ini.

Kapal induk USS Ronald dan USS Nimitz melakukan aksi latihan perang terdiri lebih dari 12.000 personel militer AS di antara dua kapal induk dan kapal penjelajah serta kapal perusak pengawal mereka, yang beroperasi di Laut China Selatan pada Jumat kemarin.

Dalam pernyataannya seperti dilansir CNN, Armada Pasifik AS menyebut kedua kapal induk, lebih dari 120 pesawat dikerahkan di antara kedua kapal melakukan latihan pertahanan udara taktis menjaga kesiapan dan kecakapan berperang.

“Pasukan berlatih ke tingkat kesiapan tertinggi untuk memastikan daya tanggap terhadap segala kemungkinan melalui proyeksi daya,” tulis pernyataan tersebut.

Menghadapi langkah AS, Tiongkok tidak mau kalah. Mereka telah mengerahkan jet tempur ke landasan terbang di pulau disengketakan. Melansir Forbes, citra satelit pada 15 Juli menunjukkan setidaknya ada empat pesawat tempur dikirim. Langkah ini dilakukan dua hari setelah Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo menyatakan, klaim Beijing atas sumber daya lepas pantai di sebagian besar Laut China Selatan sepenuhnya melanggar hukum.

Pesawat tersebut diyakini merupakan varian J-11B buatan Tiongkok dari jenis pesawat Flanker yang terkenal garang. Pesawat ini secara umum setara dengan F-15 Eagle digunakan Angkatan Udara AS.

Masih mengutip Forbes, China membangun berbagai versi keluarga pesawat tempur Rusia, awalnya dikenal sebagai Sukhoi Su-27 Flanker. Sementara varian tepat sulit dilihat citra satelit, namun disebutkan tidak ada keraguan, ini adalah Flankers.

Flankers berada di landasan terbang di Pulau Woody di Kepulauan Paracel. Meskipun secara de facto ditempati Tiongkok, wilayah itu juga diklaim Taiwan dan Vietnam. Yang merupakan salah satu dari banyak pulau di daerah itu yang disengketakan. Sebelumnya, Tiongkok sudah menambah fasilitas militer dalam beberapa tahun terakhir dan telah mengerahkan pasukan dan pembom di sana. (*andy surya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here