Perlu Pemimpin Daerah Cerdas di Tengah Kebijakan Efisiensi

0
165
FOTO ilustrasi di desain AI

Oleh: Andi Surya

Dua tahun ini, Pemerintah Republik Indonesia telah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran. Otomatis dana transferan ke daerah berkurang cukup signifikan. Dengan kebijakan efisiensi membuat pemimpin daerah menjadi pusing tujuh keliling.

Mengingat dengan anggaran terbatas, pemimpin daerah itu harus mengelolanya secara bijak. Lalu, mencari alternatif lain, demi meningkatkan pendapatan daerahnya. Tapi bagi pemimpin daerah yang cerdas, kebijakan efisiensi ini dapat di antisipasi sedini mungkin.

Karena pemimpin daerah yang cerdas mempunyai daya pikir diatas rata-rata orang pintar serta visioner. Oleh karena mempunyai kemampuan atau memiliki wawasan, pandangan serta merencanakan pembangunan jauh kedepan.

Artinya, pemimpin visioner tidak hanya fokus pada masalah saat ini, namun mampu merancang strategi jangka panjang dan menginspirasi orang lain, khususnya investor demi mewujudkan tujuan sang pemimpin.

BACA JUGA :  Silpa Rp70 Miliar di Postur APBD Natuna Desember 2025, Ini Rinciannya

Salah satu pemimpin daerah yang visioner, penulis menilai adalah Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos. Selain kaya, riwayat pendidikan Sherly cukup mentereng.

Ia tamatan Universitas Kristen Petra Surabaya, jurusan International Business Management dan melanjutkan studi dalam program double degree di Inholland University, Belanda.

Rekam jejak pendidikan memang diperlukan seorang pemimpin. Dari jenjang pendidikan ini, salah satu indikator, sang pemimpin mempunyai kecerdasan di atas rata-rata orang pintar.

Sejak Sherly menjabat Gubernur Maluku Utara, informasi dari berbagai sumber, kawasan itu mampu maju dan berkembang di tengah efisiensi. Meskipun geografis Maluku Utara, antara satu pulau dengan pulau lainnya terpisah lautan.

Apesnya ketika suatu daerah, terpilih pemimpin tidak visioner. Perlahan tapi pasti, kesejahteraan masyarakat, serta pergerakan roda pembangunan kawasan bakal berjalan di tempat. Ekstremnya malahan semakin hancur.

BACA JUGA :  Gubernur Letakan Batu Pertama Pembangunan Rumah Sakit Khusus Jiwa di Tanjung Uban

Yang apesnya lagi, sudah tidak visioner, daya pikir pemimpin terpilih di bawah rata-rata orang pintar. Selain tidak pintar, gawatnya sang pemimpin terpilih, mempunyai ciri-ciri bebal.

Bebal dalam kamus bahasa Indonesia berarti orang sukar mengerti, tidak cepat menanggapi sesuatu atau bodoh. Kata ini sering digunakan menggambarkan seseorang yang sulit menerima atau memahami informasi, nasehat, pelajaran, cenderung keras kepala dan suka menyalahi orang lain demi menutupi kebodohannya. ****

(Penulis: Pimpinan Perusahaan KABARTERKINI.co.id)

Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini