Ekonomi Kawasan Bakal Hancur, Ketika Pemimpin Tidak Visioner

0
155
FOTO ilustrasi dan di desain oleh AI

Oleh: Andi Surya

KEBIJAKAN efisiensi dilakukan Pemerintah Republik Indonesia menjadi tantangan berat bagi suatu kawasan atau daerah dibawahnya. Namun tantangan berat ini, bagi pemimpin daerah yang visioner bukan menjadi masalah. Sebab dengan daya pikir diatas rata-rata, pemimpin visioner akan mencari sumber ekonomi baru demi kesejahteraan masyarakat serta menggerakkan roda pembangunan kawasannya.

Karena pemimpin visioner mempunyai kemampuan atau memiliki wawasan, pandangan serta khayalan jauh kedepan. Pemimpin visioner tidak hanya fokus pada masalah saat ini, tetapi mampu melihat gambaran besar, merancang strategi jangka panjang dan menginspirasi orang lain mewujudkan tujuan sang pemimpin.

Apesnya ketika terpilih pemimpin tidak visioner, perlahan tapi pasti, kesejahteraan masyarakat, serta pergerakan roda pembangunan kawasan bakal berjalan di tempat. Ekstremnya malahan semakin hancur. Yang apesnya lagi, sudah tidak visioner, daya pikir pemimpin terpilih di bawah rata-rata orang pintar. Selain tidak pintar, gawatnya sang pemimpin terpilih, mempunyai ciri-ciri bebal.

Bebal dalam kamus bahasa Indonesia berarti orang sukar mengerti, tidak cepat menanggapi sesuatu atau bodoh. Kata ini sering digunakan menggambarkan seseorang yang sulit menerima atau memahami informasi, nasehat, pelajaran dan cenderung keras kepala.

Sementara dalam kajian Islam, dikutip dari berbagai sumber, sifat bebal atau keras kepala merupakan penyakit paling sulit diobati.

Imam Asy Syafi’i berkata: “Setiap penyakit pasti ada obat yang akan menyembuhkannya, kecuali sifat bebal dan keras kepala, ia hanya akan membuat orang ingin menyembuhkannya putus asa dan kelelahan”.

BACA JUGA :  Tingkatkan Navigasi Perbatasan, AirNav Indonesia dan Lanud RSA Sepakat Gunakan BMN

Ibrahim An Nadzdzam bertanya: “Apakah batas sifat bebal itu?” Beliau menjawab: “Engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu yang tidak memiliki batas”.

Ibnu Abi Ziyad berkata: “Ayahku menasehati aku. Wahai anakku beriltizamlah engkau kepada para ahlul Ilmi, duduklah bersama-sama dengan mereka, dan jauhilah orang-orang bebal dan keras kepala karena sesungguhnya tidaklah aku duduk-duduk bersama mereka lalu aku bangun meninggalkan mereka kecuali setiap kali itu pula berkurang akalku”.

Imam Syu’bah berkata: “Akal (ilmu) kita ini sangat sedikit, dan setiap kali kita duduk-duduk bersama orang yang lebih sedikit akalnya dibanding kita, maka ilmu sedikit itu pun akan hilang dari kita”.

Imam Abi Hatim bin Hayyan berkata: “Di antara tanda sifat bebal dan keras kepala adalah orang tergesa-gesa menjawab tanpa melalui tatsabbut”.

Imam Ibnu Ishaq berkata: “Jika engkau mendengar kabar, ada seorang kaya jatuh miskin, percayalah dengan berita itu. Jika ada berita orang miskin mendadak menjadi kaya, percayalah. Kalau ada kabar, seorang yang dulunya hidup tiba-tiba mati, percayalah. Tetapi kalau ada yang mengatakan, ada orang bebal yang menggunakan otaknya, jangan percaya”.

Allah Azza Wa Jalla Berfirman: “Dan hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”. (QS Al Furqan 63)

BACA JUGA :  Tepati Janji Politik, Wan Sis dan Wak Yal Pinjamkan Mobil Dinas untuk Pernikahan Warga

Dalam Alkitab, bebal atau bodoh merujuk pada seseorang keras kepala, menolak nasihat dan tidak mau menerima kebenaran. Seringkali karena pilihan jahat dan bukan karena kurangnya kecerdasan. Orang bebal menolak hikmat, tidak bertanggungjawab, sombong dan tidak belajar dari kesalahan.

Mereka juga bisa digambarkan sebagai orang tidak percaya kepada Tuhan. Berikut ini ciri-cirinya:

Orang bebal tidak mau mendengarkan nasihat atau teguran, bahkan jika itu datang dari sumber terpercaya. Mereka cenderung bersikeras dengan pendapat mereka sendiri dan menolak mengubah cara pandangnya.

Orang bebal tidak bertanggungjawab atas tindakan mereka dan sering kali menyalahkan orang lain. Lalu orang bebal seringkali merasa lebih pintar dari orang lain dan meremehkan hikmat diberikan. Mereka cenderung mengulangi kesalahan yang sama karena tidak mau belajar dari pengalaman.

Dengan kajian dua agama besar di Indonesia ini, betapa bahayanya orang bebal bila terpilih menjadi pemimpin suatu daerah atau negara. Sebab ia tidak akan mampu membangun negerinya dan selalu menyalahkan orang lain tentang kegagalan atau ketidak kemampuannya. ****

(Penulis: Pimpinan Perusahaan KABARTERKINI.co.id)

Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari KABARTERKINI.co.id. Ayo bergabung di Facebook dan Instagram KABARTERKINI.co.id, atau klik link https://www.kabarterkini.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini