Terbengkalai, Bangunan Pengembangan Masjid Al-Jami’ Tanjung

0
537
KONDISI bangunan pengembangan Masjid Jami' Tanjung

Kabarterkini.co.id, Natuna – Bangunan pengembangan Masjid Al-Jami’ Desa Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur Laut, terbengkalai. Padahal bangunan dibelakang masjid itu, telah menghabiskan anggaran aspirasi anggota DPRD Natuna dan anggaran Desa Tanjung pada 2014 silam sekitar Rp270 juta.

“Kalau tidak salah, dari anggaran aspirasi Almarhum Pak Nuzur (anggota DPRD Natuna 2009-2014-red) sekitar Rp150 juta,” kata Zurman saat ditemui disalah satu kedai kopi Desa Tanjung, Sabtu siang 22 Februari 2020. “Anggaran Desa Tanjung sekitar Rp120 juta.”

Hasil penelurusan di Google, Nuzur meninggal dunia pada 2012. Wakil rakyat terkenal vokal dan peduli pembangunan rumah ibadah itu, digantikan Hazimah, rekan separtainya, dari Partai Pelopor.

RUANG dalam bangunan

Menurut Zurman, bangunan pengembangan Masjid Al-Jami’ Tanjung tetap tidak bisa dilanjutkan, karena pondasi kurang kuat, dan arah kiblat salah. Hal itu sesuai hasil survey dan penelitian CV. Arjuna Consultan.

Sehingga bangunan pengembangan masjid itu, menjadi sia-sia. Padahal telah menghabiskan anggaran desa dan daerah sekitar Rp270 juta.

“Saya pribadi, warga Desa Tanjung, meminta masalah ini di usut tuntas aparat penegak hukum,” pinta Zurman. “Wajar sebagai seorang muslim, saya merasa terbeban, karena bangunan itu, tempat ibadah, rumah Alloh.”

PONDASI bangunan tidak sesuai bestek

Pria berusia 40 tahun, berprofesi sebagai nelayan itu, tidak habis pikir, penanggungjawab kegiatan pengembangan bangunan Masjid Al-Jami’ Tanjung berani membiarkan terbengkalai. Atau membangun tidak sesuai bestek.

“Terus terang, saat bangunan pengembangan masjid pada 2014, Kepala Desa Tanjung masih Wan Budjang Hairani, kini menjabat lagi,” kata Zurman. “Jika ingin mengetahui lebih jelas, coba tanya beliau.”

Kades Tanjung Wan Budjang Hairani saat berita ini dipublikasi, belum bisa dikonfirmasi. Hanya hasil pantauan awak media, bangunan pengembangan Masjid Jami’ Tanjung, mulai rapuh dimakan usia. Otomatis, anggaran desa dan daerah pada 2014, sekitar Rp270 juta menjadi sia-sia. (*andy surya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here