Transportasi Udara Tidak Lancar, Pengusaha Rajungan Natuna Menderita

0
468
PARA pekerja rajungan di Sebala

NATUNA, KABARTERKINI.co.id – Usaha pengupasan daging rajungan di Natuna mengalami kendala pengiriman ke luar daerah. Pasalnya, transportasi udara tidak lancar, seperti biasanya.

Jumardi, salah seorang pemilik usaha pengolahan rajungan di Batu Gajah, Kecamatan Bunguran Timur mengatakan, kondisi ini sudah berlangsung semenjak beberapa bulan terakhir. Akibat tidak lancarnya pesawat udara membuat
pengiriman tersendat.

“Biasanya dalam sepekan, kami bisa dua sampai tiga kali pengiriman ke Batam. Karena pengiriman tidak lancar, jadinya barang menumpuk,” keluh Jumardi pada KABARTERKINI.co.id di tempat usahanya, Rabu siang 4 Agustus 2021.

Sebenarnya, ia berencana, Sabtu akan datang mau mengirim daging rajungan pakai pesawat Hercules. Namun ia sedang berusaha, agar barangnya bisa dibawa pesawat milik TNI AU itu.

“Pesawat komersil tidak ada terbang. Terpaksa kita minta tolong pesawat milik TNI AU. Habis kita tidak tahu mau kirim pakai apa?” ujar Jumardi sambil matanya menerawang jauh.

Pria yang membuka usaha di Dusun Sebala ini mengakui, daging rajungan harus dikirim dalam kondisi segar sesuai dengan permintaan agen penampung. Jika memakai transportasi laut, jelas sangat beresiko, karena daging ranjungan bisa basi atau dianggap rijek.

“Abang kan tahu sendiri, kalau barang sudah basi, perusahaan tidak akan mau terima. Kalau terjadi seperti itu kita yang rugi,” paparnya.

Biasannya dalam sehari, Jumardi dapat menampung 40-50 kilogram rajungan segar dari nelayan setempat. Kemudian diproses untuk diambil dagingnya.

“Kalau seperti ini terus menerus, usaha saya bisa tutup karena modal tidak berputar. Kasihan ibu-ibu yang bekerja disini, tidak ada tambahan penghasilan lagi,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dialami oleh Izhar, pengusaha rajungan asal Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat. Ia terpaksa memutar otak agar usahanya tetap jalan.

Ketidak pastian penerbangan ke Natuna tidak hanya berdampak pada bisnis rajungan. Akan tetapi, berimbas pada semua usaha hasil laut.

“Sekarang ini sakit, barang yang dikirim sering rijek. Bahkan semua hasil laut fresh terkendala pengiriman ke Batam, khususnya ikan”, sebut Izhar.

Pengiriman barang terpaksa dilakukan melalui transportasi laut, meskipun berisiko tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut, ia membatasi pengiriman, hanya dua minggu sekali.

“Saat ini harga hasil laut rata-rata masih stabil. Terpenting barang dari Natuna bisa keluar, jangan sampai tidak ada transportasi,” pungkasnya. (*zani)q

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here