Calon Gubernur Anak Pinang, Ini Komentar Nitizen

0
287
AKAU Potong Lembu (foto Dedy Irawan Green/Facebook)

Catatan Andi Surya, Anak Pinang

BERBAGAI tanggapan nitizen, ketika penulis sebarkan opini di sejumlah Grup Facebook berjudul: “Sejak Terbentuk Provinsi Kepri, Anak Asli Tanjungpinang Tidak Pernah Jadi Gubernur.” Berbagai tanggapan pro kontra, biasa di era demokrasi. Apalagi di dunia maya. Pro kontra itu, harus diambil benang merahnya, demi Anak Pinang kedepan.

Dalam opini, penulis dibesarkan di Tanjung Unggat ini mengulas tentang 17 tahun Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berdiri, beribukota di Tanjungpinang. Silih berganti, Gubernur terpilih. Sayang, tidak ada satu pun, anak asli kota paling tua di Kepri itu, terpilih jadi Gubernur. Jangankan level pemimpin nomor satu, meraih pemimpin nomor dua pun “kempunan.”

Bukan ingin membeda-bedakan, melainkan merasa heran. Kemana istilah Anak Pinang, dibangga-banggakan. Terlepas dari keturunan suku mana pun, asal lahir, besar dan sekolah di Tanjungpinang, ia tetap “digelar” Anak Pinang. Yang suka nongkrong kedai kopi pasar lama, sambil berbicara ngalor ngidul. Pantau kawan turun dari kapal luar negeri.

Ya, kebanggaan Anak Pinang, menjadi pelaut. Dengan gaji lumayan besar. Gaya sepatu jenggel, celana jeans ketat. Turun kapal, pasti banyak kawan menyambut. Dari mulai pelabuhan besar, hingga jalan-jalan pasar lama.

Dulu, bahasa prokem, atau bahasa gaul, dialeg sehari-hari Anak Pinang. Paling top, tidak pernah terlupakan, istilah “Nandok”, atau meminta uang teman sedang banyak rezeki, terutama baru turun kapal tadi. Tidak ada rasa sungkan atau malu, istilah Nandok ini. Melainkan dianggap tradisi pertemanan.

Anak Pinang kompak. Dulu, saling kenal mengenal, serta tidak menutup pintu bagi pendatang. Tapi, kini Anak Pinang bagai terpinggirkan. Tidak terdengar anak asli Pinang menguasai pemerintahan. Apalagi menjabat Gubernur atau Wakil Gubernur Kepri.

Jadi Anak Pinang harus bangun, raih kekuasaan itu. Bukan membeda-bedakan saudara kita dari luar, melainkan Anak Pinang harus berkuasa dikampung sendiri. Agar di struktur pemerintahan, banyak di isi Anak Pinang.

Hanya segelintir Anak Pinang dipemerintahan. Itu pun banyak menjabat golongan biasa. Seolah – olah Anak Pinang sebagai penonton dikampungnya. Tidak bisa banyak berbuat. Maka, pada 2020, salah satu dari dua pasang kandidat pilkada 2020, harus asli Anak Pinang.

Lalu apa tanggapan nitizen di Grup Facebook? Hanya dilansir satu dua komentar dari Grup InfoPinang. Ahmad Mage menanggapi ringan. Sambil berkelakar, ia mengatakan, “Ada nanti Bang. Putra daerah Tanjungpinang asli. Kita tunggu ya.” Ahmad Said membalas, mungkin belum ada rezeki. Harly Taaslivi sambil bercanda, “Doakan saye, ye ketue…hehehe.”

Nasir Saleh berpesan, “Agar intropeksi diri masing-masing, sebagai putera daerah. Kenapa? Kalau kita kaji tidak sedikit putra daerah asal Tanjungpinang sangat berpotensi duduk sebagai orang nomor 1 di rumah sendiri. Permasalahannya dimana? Tidak adanya kekompakan. Mudah terpecah belah. Yakinlah kalau putra daerah bersatu, satu tekad, satu suara, tidak goyah dengan iming-iming, yang justru melemahkan kita putera daerah. Kun fa yakun. Semoga.” Tanggapan Ray Rey, “Ada pun yang maju entar gak ada yang milih, same je.” ****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here