Dari Era Penjajahan, Jalan Kelarik Mengenaskan

0
533
SALAH satu jalan menuju Kelarik, berlumpur (foto: Zulkifli)

Kabarterkini.co.id, Natuna – Dari era penjajahan, jalan menuju Desa Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara masih sangat mengenaskan, terutama saat musim penghujan. Karena jalan tanah desa sekitar 70 kilometer dari Kota Ranai, ibukota kabupaten kepulauan di tengah negara Asean ini, menjadi bubur alias berlumpur, hingga kedalaman satu meteran.

“Hari ini, banyak kenderaan roda dua dan empat terjebak,” kata Zulkifli, warga Kelarik via pesan WhatsApp, Ahad siang 5 Juli 2020. “Entah kapan penderitaan warga Kelarik berakhir, saat mau bepergian ke kota kabupaten.”

Jalan menuju Kelarik, cerita Gapok, biasa disapa, sudah belasan tahun terbangun. Jalan ini terbangun, salah satunya, hasil perjuangan almarhum Imalko (Wabup Natuna Periode 2011-2016).

Dahulu, sebelum ada jalan itu, masyarakat ingin datang atau pergi ke Kelarik, harus mengeluarkan biaya cukup besar. Sebab wajib naik transportasi laut, via Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat.

“Atas perjuangan almarhum Pak Imalko, saat beliau masih kontraktor, pelan-pelan tembus jalan ke Kelarik,” ungkap Gapok. “Hingga beliau menjadi Wabup Natuna, jalan itu menjadi prioritas dibangun.”

Namun, sejak Imalko tidak menjadi Wabup Natuna, dan pulang kepangkuan Alloh SWT, Gapok tidak tahu mau mengadu kemana, tentang kondisi jalan menuju Kelarik.

“Biasa saya menyampaikan aspirasi tentang kondisi jalan menuju Kelarik, dengan Pak Imalko,” terang Gapok. “Kini tidak tahu, dengan siapa.”

Jadi, Gapok hanya bisa pasrah, dan berharap perhatian pemerintah, baik dari pusat, provinsi atau daerah. Agar jalan itu dibangun permanen. Jangan terus dibiarkan jalan tanah, kena hujan berlumpur, kena panas berdebu.

“Sempat ada masyarakat menangis, kenderaan roda duanya terjebak lumpur,” kata Gapok. “Maklum, situasi malam hari, berada di tengah hutan.” (*andy surya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here