Jangka Waktu dan Strategi Investasi Pasar Modal Indonesia

0
109
GEDUNG BEI Jakarta (foto istimewa)

Catatan: Tim BEI

INVESTASI pasar modal kian marak dilakukan di masa pandemi Covid-19, terlebih adanya kemudahan proses transaksi secara online, di mana saja dan kapan saja. Hal ini menjadi pendorong minat investor, terutama dari kalangan milenial yang menjadi investor pemula di pasar modal Indonesia.

Tentu dengan memilih instrumen pasar modal Indonesia, seperti reksa dana ataupun secara langsung menjadi investor di Bursa Efek Indonesia atau BEI. Namun, ketertarikan dan keberanian memulai berinvestasi harus dibarengi perencanaan matang, agar mendapatkan hasil optimal.

Setelah memahami profil risiko investasi dan mengerti prinsip diversifikasi risiko, maka perlu memahami time horizon atau jangka waktu investasi. Karena jangka waktu investasi mempengaruhi pemilihan produk investasi.

Jika investor mengalokasikan dana pada saham atau reksa dana saham, otomatis jangka waktu investasi harus panjang, seperti investasi portofolio, lebih dari lima tahun. Semakin panjang waktu investasi, semakin berpotensi memberikan imbal balik tinggi.

Sebab investor akan melewati fluktuasi jangka pendek. Kalau investor hanya menoleransi jangka waktu menengah, antara 3-5 tahun, pilihan investasi adalah separuh pada saham atau reksa dana saham, dan sebagian dapat dialokasikan pada instrumen obligasi atau surat utang negara.

Jika memilih reksa dana, bisa mengalokasikan dana investasi pada reksa dana campuran. Kalau jangka waktu investasi pemodal kurang dari tiga tahun, pilihannya tidak ke pasar saham, mengingat memiliki risiko fluktuasi tinggi. Pilihannya membeli obligasi korporasi, surat utang negara, atau reksa dana pendapatan tetap.

Seandai jangka waktu investasi kurang lebih setahun, cukup dialokasikan pada reksa dana pasar uang atau menempatkan dana tidak pada instrumen investasi, melainkan pada deposito perbankan. Sebab jangka waktu investasi memiliki keterkaitan dengan strategi investasi.

Ada dua pendekatan strategi investasi di pasar modal, yakni strategi fundamental dan strategi teknikal. Strategi fundamental menitikberatkan pada jangka waktu investasi panjang. Dengan melihat kinerja fundamental atau kinerja keuangan perusahaan.

Tokoh investasi terkenal yang menerapkan strategi fundamental adalah Warren Buffet. Salah satu dari 10 orang terkaya di dunia, pendiri perusahaan investasi Berkshire Hathaway, asal Omaha, Amerika Serikat. Warren suka memilih saham-saham dengan kinerja keuangan bagus dan nilai buku saham lebih tinggi dari harga sahamnya di bursa efek.

Sehingga, walaupun saham-saham jenis ini mengalami fluktuasi harga, dalam jangka panjang harga sahamnya akan naik menyamai nilai buku saham. Riset dan analisa mendalam dilakukan investor jenis ini pada angka keuangan dan prospek bisnis perusahaan di sektor masing-masing.

Strategi kedua adalah teknikal. Strategi ini dilakukan untuk mendapatkan keuntungan investasi jangka pendek. Dengan mencermati pergerakan harga saham atau fluktuasi harga di bursa efek. Pertimbangan kinerja keuangan tidak menjadi dasar utama. Namun pada strategi ini, investor harus benar-benar aktif mengamati pergerakan saham setiap hari, atau bahkan setiap jam dan menit.

Momentum dalam mengambil keputusan membeli dan menjual saham pada harga dan waktu tepat menjadi sangat penting. Banyak tokoh investasi saham di dunia yang menggunakan strategi teknikal, salah satunya George Soros. Yang mengelola dana hedge fund dunia.

George Soros sangat jago memprediksi masa depan suatu perusahaan. Sehingga dengan mudah bisa mendapatkan keuntungan dari tren kenaikan harga sahamnya.

Strategi spekulasi jangka pendek dilakukannya, banyak diikuti investor- investor muda yang memiliki karakter investasi risk taker atau agresif. Dari tingkat risiko investasi, tentu strategi teknikal memiliki risiko lebih besar dibanding strategi fundamental. Tinggal para investor memilih, “high risk high return, low risk low return”. ****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here