PELABUHAN SUBI, PROYEK MANGKRAK

0
219
*Terbangun Tiang, Ratusan Milyar Rupiah Ludes

kabarterkini.co.id, NATUNA – Pelabuhan Subi, proyek mangkrak. Karena lima tahun berjalan, pelabuhan perintis di kecamatan perbatasan Indonesia, sekitar delapan jam mengarungi lautan lepas dari Kota Ranai, ibukota Kabupaten Natuna itu, belum rampung. Padahal selama lima tahun di bangun, Pelabuhan Subi diperkirakan telah menghabiskan Anggaran Pendapat Belanja Negara (APBN) ratusan milyar rupiah.
“Di Subi, pelabuhan di bangun secara bertahap, hanya cuma tiang-tiang,” kata Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti saat rapat bersama dengan Tim Pengawas DPR Republik Indonesia pada pembangunan daerah perbatasan di ruang rapat utama Kantor Bupati Natuna, Jalan Bukit Arai, Ranai, Rabu siang 18 Oktober 2017. “Tidak salah sudah lima tahun berjalan, kini proyek itu mangkrak atau tidak dilanjutkan.”

Oleh karena itu, Ngesti meminta pemerintah pusat segera membangun atau mempersiapkan pelabuhan perintis Subi, termasuk di Midai. Mengingat pelabuhan perintis di dua kecamatan itu, sudah lama dibangun, tidak jelas kapan rampung. “Kami berada di perbatasan laut dengan beberapa negara luar,” kata Ketua Partai Golkar Natuna itu. “Pelabuhan perintis itu sangat penting demi menunjang perekonomian masyarakat.”

Berbicara proyek Pelabuhan Subi, beberapa edisi Info Nusantara publikasi tahun lalu. Bermula dari kiriman video dari mantan wartawan Natuna Amrullah, Jumat malam 9 Desember 2016. Video berdurasi 3,17 menit di kirim melalui layanan Bluethoot, bercerita tentang kondisi tiang pancang proyek pembangunan Pelabuhan Subi. Kondisi tiang pancang, bukan tegak berdiri kokoh, melainkan berceceran di pantai hingga hampir ke tengah laut. Diperkirakan 300-an meter, kata Amrul -biasa disapa- “Tiang-tiang pancang itu berserakan.”

Menurutnya, sebagian tiang mulai berkarat. Kemungkinan akibat terendam air laut, ketika pasang. Terpanggang sinar matahari, ketika air laut surut. “Saya heran, kenapa tiang pancang berbahan besi itu tidak ditanam, seperti tiang lain,” katanya. “Kalau tidak tertanam, lama-lama tiang besi itu akan keropos.”

Sumber Info Nusantara menerangkan, tiang pancang pelabuhan, tidak masalah terendam air laut. Tiang tidak akan berkarat, asal tidak terpapar sinar matahari. Tapi, kata sumber yang juga bekerja sebagai pengawas salah satu proyek pembangunan pelabuhan di Natuna itu, Kamis 15 Desember lalu, “Kalau terkadang terendam, terkadang terkena sinar matahari, bisa rusak tiangnya.”

Sementara video kiriman Amrul kedua, memperkuat video kiriman pertama, tentang kondisi proyek Pelabuhan Subi. Video pertama berdurasi 1,58 menit itu juga dikirim melalui layanan Bluetooth, Selasa 22 November 2016, bercerita tentang hasil pantauan kondisi lantai proyek pembangunan Pelabuhan Subi. Dalam video, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Natuna Marine Ecoregion, Indra Praja menguji kualitas lantai pelabuhan. Dengan cara mengetuk-ngetuk satu sudut lantai pelabuhan.

Ujung lantai diketuk menggunakan kayu bulat dan pendek digenggaman tokoh pemuda Subi itu, dengan kekuatan sedang, semen lantai pun hancur. Semen hancur atau kekuatan diragukan sebagai lantai yang kelak menjadi beban pelabuhan untuk menahan barang, orang dan gelombang. “Sekitar 100 meter lantai pelabuhan terbangun,” tulis Amrul melalui pesan singkat, Kamis 1 Desember 2016. “Saat saya merekam melalui ponsel, lantai baru terbangun sekitar 40 meter.”

Usai merekam kualitas lantai, video beralih ke tumpukan kerikil. Dalam video terlihat seseorang mengambil satu kerikil warna biru muda. Lalu, video beralih menyorot pasir merah, diduga sebagai campuran semen. “Bukan hanya kualitas semen, bahan campuran, seperti kerikil dan pasir, kita ragu mutunya,” tulis Amrul. “Yang perlu digaris bawahi, tiang pancang terbangun sekitar 2 kilometer, sekitar 300 meter belum ditanam,” tulis Amrul lagi, sambil menambahkan, tiang belum ditanam, dibiarkan berserak terendam air laut, sekitar pantai.

Proyek pembangunan Pelabuhan Subi dibangun rada ganjil, dari tiang pancang hingga lantai, dimulai dari laut ke darat. Dilaksanakan secara bertahap, pada 2013, 2014, 2015 dan 2016. Jadi proyek dilelang setiap tahun oleh Kementerian Perhubungan RI. Otomatis, tiap tahun berbeda kontraktornya.

Menurut masyarakat Subi, tutur Amrul, tahap pertama dibangun dengan anggaran sekitar Rp5,7 milyar. Jenis pekerjaan, membangun tiang pancang. Tahap kedua, tidak diketahui, siapa kontraktornya, anggaran serta jenis pekerjaan. “Anggap saja, tahap kedua, pekerjaan siluman,” kata Amrul. “Saya tanya masyarakat Subi, tidak ada yang tahu, tentang pembangunan proyek tahap kedua itu.”

Pekerjaan tahap ketiga, tidak diketahui kontraktornya. Anggaran sekitar Rp59 milyar. Jenis pekerjaan, pembelian bahan material pelabuhan. Tahap ke-empat, kontraktornya, PT Pilar Dasar Membangun. Anggaran sekitar Rp16 milyar. Kontraktor itu akan membangun lantai pelabuhan.

Dalam membangun lantai pelabuhan, kontraktor sempat menggunakan air laut, sebagai campuran semen. Tetapi, setelah masyarakat protes, kembali kontraktor menggunakan air tawar. “Proyek tahap empat ini, baru selesai 40 persen,” tegas Amrul.

Foto papan plang tahap empat, tertulis : proyek dari Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Tarempa. Pekerjaan : Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Subi Tahap IV (empat-red). Lokasi : Pulau Subi, Kepulauan Riau. Tahun Anggaran : 2016. Sumber Dana : APBN.
Nomor Kontrak : PL.106/1/5/SBI/UPP.TPA.2016. Nilai Kontrak : Rp16.995.170.000. Kontraktor : PT Pilar Dasar Membangun. Konsultan : CV Bangun Bina Bersama. Celakanya, tidak tertulis, kapan proyek mulai dikerjakan, dan berapa lama pengerjaannya. “Proyek belum jelas mutunya itu,” kata Amrul. “Telah menghabiskan anggara negara, dengan total seratusan milyar rupiah.” (*andi surya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here