LAM Kepri Minta Gedung, Seniman Minta Taman Budaya

0
286
Sekretaris Dewan Kesenian Kepri Fatih Muftih

TANJUNGPINANG, KABARTERKINI.co.id – Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad menyanggupi pembangunan gedung baru bagi Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri. Dengan kesanggupan itu, mendapat respons kalangan seniman Kepri.

Sekretaris Dewan Kesenian Kepri Fatih Muftih menilai, Ansar sebagai Gubernur Kepri yang baru punya perhatian terhadap kebudayaan. Tapi perhatiannya tidak bisa separuh-separuh. Karena semua bergiat dibidang kebudayaan harus mendapat perhatian, termasuk teman-teman seniman.

“Jika perhatian kepada LAM diwujudkan lewat pembangunan gedung baru, kata Pak Gubernur bakal megah dan berornamen kebesaran Melayu dan berlatar laut luas. Perhatian kepada seniman, bisa ditunjukkan lewat pembangunan Taman Budaya,” kata Fatih melalui keterangan tertulis, Selasa 20 April 2021.

“Kalau Pak Gubernur mau cek datanya di Kemendikbud, cuma Kepri yang provinsinya selalu lantang menggaungkan kebudayaan, tapi tidak punya Taman Budaya,” katanya lagi.

Pembangunan gedung baru buat LAM Kepri, sambungnya, membutuhkan anggaran miliaran rupiah, terlebih jika mengingat kemegahan dijanjikan. Sementara pembangunan atau penyediaan Taman Budaya, tinggal melanjutkan kerja-kerja yang sudah dimulai Pemprov Kepri sebelumnya.

“Kalau LAM memang tidak mau pakai gedung di Dompak, yang punya auditorium besar, biar seniman pakai sebagai Taman Budaya. Cuma tinggal renovasi sedikit, gedung itu bisa menjadi gedung pertunjukan terbesar di Tanjungpinang. Kan mubazir kalau dibiarkan terbengkalai,” ujar Fatih yang juga penyair ini.

Seperti diketahui bersama bahwasanya visi Ansar Ahmad sebagai Gubernur Kepri hingga 2024 adalah menjadikan Kepri sebagai provinsi makmur, berdaya saing, dan berbudaya. Kata ‘berbudaya’ ini yang, menurut Fatih, perlu ditunaikan lebih dari sekadar pembangunan Gedung LAM.

“Kami tidak menolak pembangunan Gedung LAM, tapi kami hanya mengingatkan bahwa untuk menjadi berbudaya itu perlu program-program pro kebudayaan. Sekarang, kita tengok berapa anggaran tahunan dialokasikan untuk kebudayaan. Dari situ kita bisa menepuk dada tanya selera,” pungkasnya. (*zaki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here